Rabu, 19 April 2017

[Review] Unperfect Marriage


Judul Buku: Unperfect Marriage
Penulis: Merry Maeta Sari
Penerbit: Elexmedia Komputindo
Jumlah halaman: 232 halaman
Cetakan kedua, 2016


BLURB

Dylan
Aku berharap kamulah yang menolak perjodohan ini. Tapi kamu menerimanya. Bahkan setelah menikah, berkali-kali aku menyakitimu, tak menganggapmu. Tapi kamu tak peduli. Kenapa kamu tak meninggalkanku? Mencari kebahagiaanmu sendiri, kamu berhak untuk berbahagia, Nin...!

Nina
Sebab di dekatmulah aku merasa bahagia, Mas. Dengan atau tanpa kepedulianmu kepadaku. Bahkan sekalipun pada akhirnya setiap tarikan napasku hanya untuk menghirup luka. Tak apa. Sebab aku terlebih dulu memilihmu. Memilih untuk mencintaimu. Dan semuanya bertambah ketika pernikahan kita, aku hanya perlu taat padamu, dengan atau tanpa cintamu.


CUPLIKAN KISAH

Manusia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Termasuk dengan siapa akan menikah. Nina pun begitu. Ia tidak pernah menyangka bahwa laki-laki yang akan dijodohkan dengannya adalah Dylan, kakak kelasnya ketika sekolah yang memang sempat Nina sukai.

Bertemu dengan Dylan kembali seperti sebuah mimpi bagi Nina. Apalagi dapat menjadi istrinya. Otomatis cinta lama bersemi kembali. Tapi sayangnya, itu hanya terjadi hanya pada Nina. Bukan Dylan.

Bagaimanakah rasanya jika seseorang mengabaikanmu?

Sakit, pastinya. Itulah yang dirasakan Nina setelah menjadi istri seorang Dylan Adhiatmaja. Mereka tinggal di rumah mungil milik Dylan, tetapi layaknya orang asing. Mereka melakukan aktivitas masing-masing dan berbicara seperlunya. Bukan hanya itu, mereka juga tidur di kamar yang berbeda.

Nina sadar, rumah tangganya tidak harmonis. Tetapi karena terlanjur mencintai Dylan, ia rela tersakiti. Sampai akhirnya ia memergoki Dylan sedang berduaan dengan Winda. Hati Nina hancur berkeping-keping.

[“Pernikahan ini nggak utuh, Nina.”
Kamu yang membuatnya nggak utuh. Batin Nina pilu. Atau jusru aku? – hal. 53]

Meskipun Dylan telah mengakui hubungan terlarangnya dengan Winda, Nina tidak peduli. Karena hanya bersama Dylan ia merasa bahagia, sekalipun harus menahan luka. Nina pun meminta waktu tiga bulan kepada Dylan agar ia dapat membuat Dylan jatuh cinta. Nina percaya, bahwa mereka hanya belum mencoba—lebih tepatnya Dylan yang belum mencoba menerima Nina.

Di sisi lain, Nina mendapatkan perhatian dari Andika, guru Olahraga di tempat Nina mengajar. Kalau bukan karena sahabatnya yang memberi tahu (Rara), Nina tidak akan sadar bahwa Andika memang memperhatikannya. Tetapi Nina tidak peduli. Yang ada di hatinya hanyalah Dylan. Sosok yang dingin, tetapi sebenarnya hangat. Manusia tanpa ekspresi namun terkadang romantis.

Sementara itu Andika digambarkan sebagai sosok yang supel, penuh gombal, dan sangat percaya diri. Memiliki masa lalu yang buruk namun berubah begitu mengenal Nina. Lambat laun ia berubah karena memang sadar bahwa semua yang dilakukannya dulu adalah salah.

[Entah sejak kapan akhirnya aku mulai bertobat, pelan-pelan menjalankan kewajiban shalat lima waktu, walau masih kesulitan di subuh dan isya. – hal. 70]

Ketika Andika tahu bahwa Nina sudah menikah, ia patah hati. Ia nyaris masuk ke lubang hitam sekali lagi kalau guru mengajinya tidak menelepon dan membicarakan soal ta’aruf. Ya, Andika memang sedang mencoba move on dengan cara itu.

[Ya barangkali Pak Andika minat menikah dengan gadis baik-baik, ya harus diawali dengan cara yang baik, tho, Pak. Ya salah satunya ta’aruf itu. – hal. 138]

Tapi siapa yang mengira kalau Andika akan menjalani proses ta’aruf dengan Rara? Andika sudah tahu dari proposal Rara, sebenarnya. Tetapi Rara tidak. Rara yang terkejut begitu melihat Andika. Tanpa mau menunda-nunda, Andika langsung meng-khitbah Rara. Tanggal pernikahan pun telah ditetapkan.

Di saat hubungan Dylan dan Nina membaik, juga Andika dan Rara yang berbahagia, masalah kembali muncul. Dan itu tepat ketika Dylan bertemu dengan Andika. Mereka saling menyerang karena satu nama: Winda.


REVIEW

Novel ketiga milik Merry Maeta Sari yang saya baca ini terbit tahun 2015, sebenarnya. Tetapi karena saya baru punya, otomatis baru baca.

Tema novel ini adalah pernikahan bernuansa islami. Sepertinya memang buku-buku karya Meta selalu betema pernikahan, hehe. Tokoh-tokohnya yang selalu memiliki kekurangan membuat karakter mereka terlihat nyata. Karena tidak ada manusia sempurna. Termasuk tokoh fiksi. :D

Dengan menggunakan POV campuran (1 dan 3) dan gaya bahasa yang santai, saya rasa Meta berhasil memberikan pengetahuan tentang agama kepada pembaca. Sama sekali tidak terkesan menggurui. Selain itu, Meta juga memasukkan unsur komedi di dalamnya. Terlihat dari sosok Andika yang memang gemar menggombal dan mengeluarkan celetukan lucu.

Yang saya sayangkan adalah ada ketidakkonsistenan dalam penggunaan bahasa. Di saat tertentu baku, di saat lain tidak. Seperti dalam cuplikan berikut:

Baku: “Sebab di dekatmulah aku merasa bahagia, Mas. Dengan atau tanpa kepedulianmu kepadaku. Bahkan sekalipun pada akhirnya setiap tarikan napasku hanya untuk menghirup luka. Tak apa.” (hal. 56)
Tidak baku: “Mas, mau makan apa? Maaf Nina tadi telat pulang, nggak sempet beli makanan juga.” (hal. 79)

Selain itu, saya juga menemukan beberapa typo dan sayangnya tidak saya tandai. Hanya ingat typo dalam sapaan mamanya Dylan. Terkadang ditulis Ibu Rima, terkadang ditulis Bu Rima.

Mungkin ini memang disesuaikan dengan situasi dan kondisi, tetapi seingat saya (dan juga dapat bocoran dari editor) penggunaan bahasa haruslah konsisten. Kecuali narasi dan dialog. Mohon maaf kalau saya salah.

Tetapi di luar itu, saya menyukai novel Merry Maeta Sari dan tidak kapok membaca karya-karyanya yang selalu ‘berisi’.


QUOTES

  1. Setan benar-benar pintar menelusup mencari ruang kosong di hati manusia untuk senantiasa mengeluh dan mengeluh. (hal. 46)
  2. Siapa bilang menangis itu tidak berguna? Semua orang butuh menangis untuk membasahi mata dan jiwa-jiwa yang kering. (hal. 78)
  3. Hakikat pernikahan adalah menggenapkan yang belum genap dan menyempurnakan yang kurang sempurna. (hal. 105)
  4. Memberikan yang terbaik bukan hanya berarti tentang sebuah kemampuan, bukan juga hanya tentang materi. (hal. 117)
  5. Dia wanita, dan dia harus diperlakukan secara baik-baik, kan? Diutamakan kenyamanan dan keamanannya. (hal. 181)
  6. Sakinah itu bukan label. Tapi ia adalah proses. Proses sepanjang pernikahan itu sendiri.” (hal. 199)
  7. Pernikahan bukan hanya tentang keserasian dan kecocokan. (hal. 200)
  8. Setiap orang punya masa lalu. Dan nggak semuanya bagus. Yang penting itu gimana dia mau belajar dan memperbaiki dirinya. (hal. 201)
  9. Kebaikan kan, harus disegerakan. (hal. 218)
  10. Nggak ada pernikahan yang sempurna. (hal. 230)
  11. Pernikahan adalah proses pembelajaran. (hal. 230)

RATING

Cover: 4/5
Tema: 3.5/5
Karakter: 4/5
Gaya bahasa: 3.8/5
Plot: 3.8/5
Overall: 3.8/5

Jumat, 14 April 2017

[Review] Girls in the Dark

 

Judul: Girls in the Dark
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerjemah: Andry Setiawan
Penerbit: Haru
Jumlah halaman: 289 halaman
Cetakan Kesembilan 2016
Genre: Thriller/Horror


BLURB

Apa yang ingin disampaikan oleh gadis itu?

Gadis itu mati.
Ketua Klub Sastra, Shiraishi Itsumi, mati.
Di tangannya ada setangkai bunga lily.
Pembunuhan? Bunuh diri?
Tidak ada yang tahu.

Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkharisma itu.
Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyata, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh sebenarnya. Keenamgadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi ...

Kau ... pernah berpikir ingin membunuh seseorang?

CUPLIKAN CERITA

Cerita dibuka oleh Sumikawa Sayuri yang mendeskripsikan Klub Sastra dan salah satu kegiatan yang diberi nama yami-nabe. Secara harfiah artinya adalah panci dalam kegelapan. Dalam kegiatan ini peserta akan membawa bahan makanan yang dirahasiakan dari orang lain. Semua orang harus memasukkannya ke dalam panci berisi air mendidih dan kemudian memakannya. Karena saling tidak tahu bahan masing-masing, biasanya rasanya jadi tidak keruan. Kalau beruntung, jadi enak. (hal.9-10) Sambil menikmati yami-nabe, setiap anggota akan membacakan naskah berupa cerita pendek yang sudah ditulis. (hal. 10)

Anggota Klub Sastra yang ada di dalam ruangan itu adalah: Sumikawa Sayuri, Nitani Mirei, Kominami Akane, Diana Detcheva, Koga Sonoko dan Takaoka Shiyo.

Kenapa anggotanya hanya sedikit?

Karena memang Klub Sastra dinilai sebagai klub yang ekslusif dan tidak sembarang orang bisa masuk ke sana. Hanya orang-orang tertentu yang beruntung, yang diundang langsung oleh Shiraishi Itsumi, ketua Klub yang mati.

Pertemuan ini dibuka oleh wakil ketua Klub, yaitu Sumikawa Sayuri. Bisa dibilang, dia menjadi moderator acara ini. Sebuah cerita pendek dibawakan secara berurutan oleh masing-masing anggota. Dalam kegelapan dan hanya diterangi oleh lilin di dekat tempat membaca.

Setiap anggota menuliskan bagaimana pertemuan pertama mereka dengan Itsumi dan bagaimana pandangan mereka tentang gadis cantik itu. Setiap anggota memiliki pengalaman berbeda, dan saya bisa merasakan betapa pantasnya Itsumi menjadi pusat perhatian. Tetapi di bagian akhir setiap cerpen, selalu ada analisis tentang bagaimana Itsumi mati.

Ada yang berterus terang siapa pembunuhnya, ada pula yang dengan melakukan sindiran.

Yang jelas, semua cerita mereka terasa nyata.

Dan uniknya, setiap orang saling menuduh dalam karya mereka, tetapi tidak ada yang menyanggah. Terlihat sekali bagaimana mereka saling menghargai di sini.

Kalau saya ada di antara mereka dan menjadi yang tertuduh, pastinya sudah emosi dan melampiaskan semua itu dengan berbagai cara. Tetapi anggota Klub Sastra tidak melakukan itu.

Saya tidak akan menjelaskan bagaimana cerita setiap anggota karena pastinya review ini akan menjadi sangat panjang dan berujung pada spoiler. ^^


REVIEW

Ini adalah novel bergenre misteri pertama yang saya baca untuk mengikuti Challenge yang diadakan oleh Manager Haru di Instagram. Dan ini adalah karya Akiyoshi Rikako yang pertama juga yang saya baca.

Meskipun ini adalah sebuah novel, tetapi isinya kumpulan cerita pendek setiap anggota Klub dan analisis mereka bagaimana Itsumi mati.

Setiap tokoh bercerita dengan gaya masing-masing. Ada yang menggunakan bahasa baku, ada pula yang tidak. Dan karena tokoh dalam novel ini saling “menuduh” tokoh lain, saya tidak bisa mengetahui seperti apa karakter mereka sebenarnya.

Sebenarnya, novel ini tidak begitu seram. Yang membuat seram adalah ketika Sayuri berbicara. Itu rasanya ... seperti saya berada di tengah-tengah mereka dalam kegelapan.

Konfliknya tidak membuat emosi seperti novel romance pastinya, tetapi membuat kita terus bertanya-tanya, “Jadi siapa sih yang bunuh Itsumi? Jadi Itsumi mati dibunuh atau bunuh diri, sih?”

Begitulah.

Novel ini unik. Saya belum pernah membaca buku dengan konsep seperti ini. Novel yang saya rekomendasikan untuk kalian yang suka ending yang nggak biasa.


QUOTES

Sebenarnya kali ini bukan quotes, sih, karena saya nggak sempat menandai kata-kata yang mengetuk jiwa (#halah). Jadi ini adalah kalimat yang mudah-mudahan bikin kalian penasaran pengin baca:
  1. Cerita yang didengar di tengah kegelapan. Indra penglihatan direnggut. Cerita yang didengar di tengah tipuan panca indra. Tidakkah kalian pikir ini suasana yang sangat bagus? (hal. 15)
  2. Ada hal-hal yang tak bisa dibicarakan justru karena sahabat. (hal. 58)
  3. Kalau ada di dalam kegelapan seperti ini, rasanya susah sekali membedakan antara kebenaran dan tipu muslihat. (hal. 98)
  4. Kau selalu memandang rendah aku. Aku tidak akan memaafkanmu. Kubunuh kau. (hal. 137)
  5. Kuku yang baru saja ditata itu sudah panjang sampai kalau terkena saja sudah sakit. Kalau diperhatikan lebih lagi, rambutnya juga cepat menjadi panjang. (hal. 180)
  6. Hanya gadis itu yang menunjukkan wajah puas di tengah-tengah kerumunan gadis yang menangis sampai tersungkur. (hal. 187)
  7. Naskah yang akan saya baca ini, bukanlah naskah milik saya sendiri. Naskah ini ditulis sendiri oleh Shiraishi Itsumi. (hal. 224)
  8. Ada hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang. Pengorbanan diri. Kesetiaan. Budak yang absolut. (hal. 239)
  9. Jangan berteriak-teriak lagi seperti itu. Lagi pula, tidak ada yang bisa mendengar. Memalukan bukan, seorang putri berteriak? (hal. 270)

RATING

Cover: 5/5
Tema: 5/5
Karakter: 4/5
Gaya bahasa: 4/5
Plot: 4/5
Overall: 4.5/5



Kamis, 13 April 2017

[Resensi] Being Henry David


Judul: Being Henry David
Penulis: Cal Armistead
Penerjemah: Dewi Sunarni
Penerbit: Spring
Jumlah halaman: 281 halaman
Cetakan Pertama, 2016

BLURB

‘Hank’ tersadar di Stasiun Penn, New York tanpa ingatan. Pemuda berumur tuju belas tahun itu tidak tahu namanya, siapa dirinya, dan dari mana ia berasal. Satu-satunya petunjuk yang ia miliki adalah sebuah buku berjudul ‘Walden’ karya Henry David Thoreau yang ada di tangannya.
Menggunakan buku itu, ia mencoba mencari jati dirinya. Dapatkah ia mengingat kembali siapa dirinya?
Atau lebih baik ia tidak mengingatnya sama sekali?

CUPLIKAN KISAH

Seperti pada blurbnya, novel ini bercerita tentang seorang laki-laki muda yang tersadar dai Stasiun Penn tanpa ingatan dan identitas apa pun. Satu-satunya barang yang ada di dekatnya adalah sebuah buku tua berjudul Walden karya Henry David Thoreau. Laki-laki itu yakin bahwa buku Walden akan membuat ingatannya pulih.

Setelah sempat berebut Walden dengan orang aneh bernama Frankie di Stasiun, laki-laki itu bertemu dengan Jack di salah satu toilet. Dan di sanalah laki-laki itu menjadi Henry. Henry David.

“Henry,” ucap Jack bimbang, mencoba melafalkan. “Kau tidak terlihat seperti seorang Henry. Aku akan memanggilmu Hank.”

Sejak saat itu, laki-laki itu menyebut dirinya sendiri Hank.

Berteman dengan Jack yang tinggal di sebuah gubuk di balik bak sampah, membawa Hank bertemu dengan Nessa, adik Jack. Namun ternyata pertemanan ini tidaklah baik karena Hank terjerat masalah besar yang dapat menjebloskannya (serta Jack dan Nessa) ke penjara.

Hank, Jack, dan Nessa berpisah. Hank yang masih tidak tahu apa-apa pergi ke Concord. Berdasarkan buku Walden, itu adalah tempat di mana Danau Walden berada.

Mengalami perjalanan yang cukup panjang, Hank pun sampai di Danau Walden. Ia mendapatkan arahan dari seorang gadis SMA bernama Hailey yang kemudian menjadi temannya. Di danau itulah ia bertemu dengan Henry David Thoreau yang mengajaknya berbicara namun hilang begitu saja. Dan perlahan, ingatan Hank pun mulai kembali meski hanya berupa sekelebat bayangan.

Selain bertemu dengan penulis Walden yang seperti mimpi, Henry juga bertemu dengan Thomas. Kepada Thomas dia menceritakan semuanya. Thomas lalu mengusulkan agar Hank mencari di daftar nama orang hilang. Dan benar. Dia menemukan fotonya di daftar itu. Ingatan mulai kembali seutuhnya. Tetapi Hank ragu, haruskah dia kembali?


REVIEW

Sejak awal melihat novel ini dan membaca blurbnya, saya sudah dibuat penasaran. Apalagi bookmark nya lagi-lagi okeee banget. Berbentuk sepatu gitu. Lucu.

Membaca novel ini membuat saya banyak dibuat bertanya siapa sebenarnya Hank? Pertanyaan yang bertahan sampai lewat dari setengah buku. Saya tidak tahu ini bisa dibilang bagus atau tidak. Di satu sisi, penulis memang membuat pembaca penasaran, tetapi di sisi lain, jujur saja saya merasa sedikit bosan dan gemas.

Karena tokoh dalam novel ini bisa dibilang banyak, saya merasa tidak semua karakter tereskplor dengan baik. Hanya Hank satu-satunya yang menurut saya sempurna.

Dan yang saya sayangkan adalah, bagian plotnya yang entah mengapa saya rasa banyak yang bolong. Ini jelas menimbulkan banyak tanda tanya untuk saya pribadi. Saya tidak tahu pendapat pembaca novel ini yang lain, tetapi bagi saya ya begitu.

Meski tidak sesuai dengan ekspektasi saya, saya tidak menyesal membaca buku ini karena penuh dengan renungan dalam hidup. Sebagian orang menilai buku ini memakai bahasa filsafat, mungkin benar juga, dan mungkin itu sebabnya banyak yang saya kurang pahami.

QUOTES

Ini adalah beberapa quotes yang sempat saya tandai dalam novel Being Henry David:
  1. Jika seseorang bergerak dengan penuh keyakinan diri menuju mimpi-mimpinya, dan berusaha keras untuk menjalani hidup yang dia bayangkan, dia akan meraih keberhasilan yang tak terduga kelak. (hal. 62)
  2. Dunia ini penuh dengan kebetulan-kebetulan yang sangat aneh. (hal. 145)
  3. Menghadapinya lebih baik daripada melarikan diri. (hal. 189)
  4. Jangan mengambil lebih dari apa yang kau butuhkan di dunia ini. Jangan membutuhkan lebih dari apa yang kau ambil. (hal. 213)

RATING

Cover: 4/5
Tema: 4/5
Karakter: 3/5
Gaya bahasa: 3/5
Plot: 3/5
Overall: 3.5/5

Rabu, 05 April 2017

2017 Baca Buku Apa Aja?

Halooo.
Saya lagi pengin update nih buku apa aja yang saya baca di tahun 2017 ini.
Mudah-mudahan sih nggak berkurang dari tahun lalu.
Tapi kayaknya sih berkurang, karena sekarang udah nggak suka baca e-book lagi. Huhuhu.

Januari
  1. (Me)mories by Nay Sharaya
  2. Critical Eleven by Ika Natassa
  3. Kaliluna: Luka di Salamanca by Ruwi Meita
  4. Hatiku Memilihmu by Arumi E
  5. Golden Bird by Luna Torashyngu
  6. Best of the Best by Luna Torashyngu
  7. Sky by Aiu Ahra
Februari
  1. Dilan 1 by Pidi Baiq
  2. Dilan 2 by Pidi Baiq
  3. Table for Two by Dy Lunaly
Maret
  1. Being Henry David by Cal Armistead
  2. Menikahlah Denganku by Annisa
April
  1. One Little Thing Called Hope by Winna Efendi
  2. Girls in the Dark by Akiyoshi Rikako
  3. The London Eye Mystery by Siobhan Dowd
  4. Unperfect Marriage by Merry Maeta Sari
  5. The Last Dragonslayer by Jasper Fforde
Mei

  1. Cintaku itu Kamu, Halalku by Merry Maeta Sari
  2. I Love You: I Just Can't Tell You by Alvi Syahrin
  3. Everything, Everything by Nicola Yoon
  4. Happy Little Soul by Retno Hening
  5. Deessert by Elsa Puspita
  6. Rahasia Pelangi by Riawani Elyta dan Shabrina WS
  7. Forever and Always by Jenny Thalia Faurine
  8. A Little Princess by Francess Hodgson Burnett
  9. Hijrah by Ade Tuti Turistiati
  10. Laguna by Iwok Abqary
  11. Love at First Fall by Primadonna Angela
Juni
  1. 4R by Orizuka
  2. 21 by Orizuka
  3. Mahardikans by Resti Dahlan
  4. 4/4 by Orizuka
  5. O2 by Orizuka
Juli
  1. Siluet by Resti Dahlan
Agustus

  1. Then and Now by Arleen E
  2. The Number You Are Trying to Reach is not Reachable by Adara Kirana
  3. Jodoh Untuk Naina by Nima Mumtaz (re-read)
  4. Happiness by Fakhrisina Amalia
  5. Dark Love by Ken Terate
  6. Bumi by Tere Liye
September
  1. A Man about Town by Hyun Go Wun
  2. The Sun is Also a Star by Nicola Yoon
  3. Bulan by Tere Liye
  4. Insecure by Seplia
  5. Momiji by Orizuka
  6. Ways to Life Forever by Sally Nicholls
Oktober
  1. Aftertaste by Sefryana Khairil
  2. Bellamia by Ika Vihara
  3. Big Little Lies by Liane Moriarty
  4. Koala Prince by Felis Linanda
  5. Twister Serenade by Honey Dew dan Sulistyowati
  6. Matahari by Tere Liye
  7. Replay by Seplia
  8. The Dead Returns by Akiyoshi Rikako


Selasa, 04 April 2017

[Review] One Little Thing Called HOPE


Judul: One Little Thing Called Hope
Penulis: Winna Efendi
Penerbit: Gagasmedia
Jumlah halaman: 419 halaman
Cetakan pertama: 2016
Genre: Teenlit


BLURB

AERYN

Hidup Aeryn seolah nyaris sempurna. Cantik, pintar, populer. Namun, setelah kehilangan ibunya, Aeryn menyadari bahwa kebahagiaan tidak pernah berlangsung terlalu lama. Selalu ada sesuatu yang terjadi. Kehadiran Flo dan Tante Hera dalam hidupnya membuat segalanya berubah. Bahagia ternyata tak seperti yang ia duga.

FLO

Bagi Flo, hidup adalah makanan manis, kue, tas perca dan aksesori buatan tangan, kotak-kotak susu aneka rasa. Juga Genta dan Theo—dua cowok paling berarti baginya. Bahagianya hampir terasa lengkap ketika ia memiliki Aeryn sebagai kakak perempuan yang ia idamkan. Namun, bahagia ternyata tak seperti yang ia duga.

Ini kisah persahabatan yang tak terduga di antara orang-orang yang dipertemukan secara tak sengaja, keteguhan hati untuk bertahan pada pilihan meski itu sulit. Juga tentang cinta dan harapan yang harus dibagi dan direlakan pergi.


CUPLIKAN KISAH

Novel ini bercerita tentang Aeryn dan Flo yang tinggal satu rumah tetapi hubungan di antara keduanya tidak begitu harmonis. Setelah ibu Aeryn meninggal dunia, ayahnya menikahi Tante Hera dan membawa serta Flo ke rumah mereka. Aeryn tidak pernah menerima mereka dengan tulis. Ia bersikap dingin dan tidak sopan terhadap Tante Hera, juga tidak ramah terhadap Flo meskipun satu sekolah.

Berbeda dengan pandangan Aeryn tentang keluarga barunya, Flo justru merasa senang. Senang karena akhirnya hari-hari kelam bersama ayah kandungnya selesai. Senang karena ibunya dapat tertawa kembali. Senang karena tidak ada tangis lagi. Dan senang memiliki Aeryn sebagai seorang kakak yang diidamkan.

Karakter yang bertolak belakang antara Aeryn dan Flo membuat novel ini begitu berwarna meski suasananya terasa kelam. Kekelaman yang saya dapatkan dari setiap tokohnya. Mulai dari Aeryn yang kehilangan ibunya, Flo yang ditinggalkan oleh Genta, Theo yang harus melepaskan kesempatan emas untuk kuliah di universitas bergengsi, bahkan Genta yang dituntut untuk selalu sempurna oleh orangtuanya.

Hubungan Aeryn dan Flo semula tidak begitu dekat. Kedekatan terjadi ketika Aeryn mulai mengetahui rahasia yang Flo berusaha sembunyikan. Flo hamil. Dan Genta, ayah dari janin yang dikandung Flo, tidak mau bertanggung jawab.

Keputusan Flo untuk mempertahankan kandungannya mendapat dukungan penuh dari keluarga. Sementara Genta lebih mementingkan dirinya sendiri untuk meraih cita-cita dan memenuhi ambisi yang tinggi. Di sini, saya dapat merasakan perubahan sikap Aeryn secara natural dan refleks membuat saya tersenyum.

Kenyataan bahwa Flo hamil diketahui oleh sekolah. Saya merasa sangat prihatin terhadap gadis lugu ini. Menghadapi bully dan tatapan menghakimi dari orang-orang tentu tidaklah mudah. Tetapi gadis ini sangat kuat. Itu karena Flo masih memiliki orang-orang yang menyayanginya. Selain keluarga, ada juga Theo, sahabatnya sejak kecil. Theo selalu ada untuk Flo. Dan ini mengusik hati Aeryn perlahan.


REVIEW

Bukan pertama kali saya membaca karya Winna Efendi dan juga bukan yang pertama kalinya saya dibuat suka pada karyanya. Sampai sekarang, saya belum pernah kecewa meski tidak semua karyanya menjadi favorit saya. Bagaimana pun juga saya harus objektif, kan?

Tentang novel yang satu ini, judulnya agak panjang sebenarnya. Saya lebih suka menyebutnya Hope. Mohon izin untuk menyebut Hope ya, supaya terdengar lebih simpel. :D

Novel HOPE memberikan warna baru dalam karya Winna Efendi menurut saya pribadi. Biasanya saya membaca karyanya yang ringan, tetapi kali ini sedikit berat dan kelam. Kekelaman kisah setiap tokoh ditambah dengan karakter yang konsisten berhasil membuat saya terhanyut saat membaca cerita ini.

Beberapa kali membaca karya Winna membuat saya terbiasa dan tidak lagi terpengaruh (untuk berhenti membaca) saat plot terasa lambat. Tetapi ini hanya bagian awal-awal saja. Setelah beberapa bab, temponya mulai cepat.

Tidak seperti karya Winna sebelumnya yang sudah saya baca (Refrain, Remember When, Ai, dan Tomodachi), novel Hope ini sudah menyajikan konflik sejak lembar awal. Menurut saya itu bagus untuk memunculkan rasa penasaran terhadap certa berikutnya.

Gaya bahasa dalam novel ini ringan, khas Winna Efendi. Hanya bagian-bagian kesehatan yang terkesan berat, tetapi memang menunjang dalam memperkaya cerita.

Dan terakhir saya ingin mengatakan bahwa saya sangaaat suka dengan bookmark-­nya yang bergambar sepatu rajut bayi. Seperti di bawah ini:




QUOTES

Seperti biasa, saya akan membagikan quotes yang terdapat dalam novel ini:
  • Berhenti sesali apa yang sudah berlalu. (hal. 66)
  • Selangkah demi selangkah, Ryn. Langkah-langkah kecil, tapi tetap membawamu maju. Itu lebih baik daripada diam di tempat. (hal. 121)
  • Kebahagiaan nggak bisa dipaksakan. (hal. 185)
  • Ada yang bilang, setiap hal yang baik datang dengan menunggu. (hal. 189)
  • Menjadi cinta terbesar dalam hidup seseorang adalah hal paling membahagiakan sekaligus menyakitan. Membahagiakan karena dunia kita lengkap dengan kehadirannya. Menyakitkan karena tanpanya, kita tak lagi utuh. (hal. 236)
  • Memikirkan versi seandainya nggak akan bawa kita ke mana-mana. Yang ada kita cuma jalan di tempat, terperosok dalam kemungkinan-kemungkinan yang nggak bakal terjadi. (hal. 266)
RATING

-          Cover: 5/5
-          Tema: 4/5
-          Karakter tokoh: 4/5
-          Gaya bahasa: 4/5
-          Plot: 3.8/5
-          Overall: 4/5