Judul: Table for Two
Penulis: Dy Lunaly
Penerbit: Bentang Pustaka
Jumlah halaman: 260 halaman
Cetakan pertama, Desember 2016
Blurb
“Dia memang teman masa kecilku. Tapi, dia sudah bukan
lagi bocah kurus yang ada dalam ingatanku, melainkan seorang pria. Seorang pria
yang, sungguh tidak ingin aku akui, sangat menarik.”
Asha benci tinju sebesar dia membenci Arga, pria yang
pernah disebutnya sebagai sahabat. Tragedi yang merenggut nyawa Papa membuat
hubungan Asha dan Arga merenggang. Bertemu lagi dengan Arga nggak pernah
terpikirkan olehnya. Tapi, itu yang terjadi.permintaan Mama memaksanya untuk
bertemu dengan Arga sekaligus menjadi pengawas diet petinju super-menyebalkan
itu.
Menjadi pengawas diet Arga berarti pertengkaran tanpa
henti, rencana diet yang berantakan dan berkurangnya waktu untuk dinikmati
bersama Kak Rama, dietisen di klinik kesehatan Mama. Namun, Asha nggak punya
pilihan. Ia harus profesional dan berusaha berdamai dengan trauma masa lalunya.
Tapi ... bisakah?
CUPLIKAN KISAH
Novel ini bercerita tentang tinju. Asha yang benci tinju
karena dunia itu merenggut nyawa papanya. Dan Arga yang ingin menjadi petinju
karena kagum dengan papa Asha.
Penulis memulai cerita dengan kisah kedekatan Asha dengan
Kak Rama, dietisen di klinik Mama Asha. Kemudian berlanjut ketika Asha bertemu
dengan Om Bima. Dia adalah sahabat orangtua Asha dan juga Om-nya Arga.
Bertemu dengan Om Bima tentu saja membuat Asha senang. Namun
inilah yang mempertemukan kembali Asha dengan Arga, sosok yang sempat menjadi
sahabat Asha tapi kini menjadi sosok yang dibenci.
Siapa bilang kalau bertemu dengan sahabat lama pasti
menyenangkan? Tidak selalu. Apalagi jika yang terjadi pada pertemuan terakhir adalah
pertengkaran. Ya, setidaknya begitulah yang dirasakan Asha saat bertemu kembali
dengan Arga. Sikap Arga yang dingin membuat Asha seperti tidak mengenali
laki-laki itu.
Mama Asha kemudian menjelaskan tentang kondisi Arga yang
sebenarnya, bahwa berat badan Arga melebihi limit kelas bantam. Itu sebabnya
Arga diet dan sayangnya cara diet Arga tidak tepat. Mama Asha pun meminta Asha
untuk menjadi pengawas diet Arga.
Lalu Asha mau? Oh, tidak secepat itu.
Asha bimbang. Setelah mengeluarkan semua kegelisahannya
pada Kak Rama dan melihat Arga dehidrasi, Asha akhirnya memutuskan untuk
membantu Arga. Hanya agar laki-laki itu tidak mengalami hal yang dialami
papanya.
Tapi ternyata menjadi pengawas diet Arga tidaklah mudah.
Asha harus sabar menghadapi Arga yang bandel. Namun ada saatnya seseorang
merasa kesabaran telah habis. Pertengkaran hebat yang terjadi antara Asha dan
Arga membuat Asha memutuskan untuk berhenti menjadi pengawas diet cowok itu.
Tidak bertemu dengan Arga seperti melegakan Asha. Karena itu
artinya tidak perlu ada perdebatan dan tidak juga ada rasa kesal. Tapi Asha
tidak bisa berbohong bahwa dia mengkhawatirkan dengan keadaan Arga. Dan kekhawatirannya
terbukti ketika mendengar kabar Arga pingsan. Kejadian ini yang akhirnya
membuat hubungan Asha dengan Arga menjadi lebih baik.
Dekat dengan Arga, jauh dengan Rama.
Saat Arga menyatakan rasa, Asha harus memilih. Sahabat masa
kecilnya yang telah kembali, atau laki-laki yang selama ini ada di sisinya? Bagaimana
pun juga, Asha harus memilih salah satu.
Karena cinta selalu milik berdua, nggak lebih.
REVIEW
REVIEW
Oke, sudah mengikuti ceritanya di atas? Saya nggak
spoiler, kan? Bikin kamu penasaran, kan? Hehehe.
Kalau kamu mencari bacaan ringan yang segar tapi bikin
emosi naik-turun dan ending yang nggak bisa ditebak, kamu wajib baca
novel ini.
Gaya bahasanya mengalir, enak dibaca. Bikin nggak mau
berhenti. Kalau aja waktu membaca novel ini nggak sambil kerja, saya yakin bisa
menamatkan novel ini dalam wakut satu hari, saking enaknya gaya menulis Dy
Lunaly.
Saya suka dengan karakter yang dibuat oleh penulis. Asha yang
pantang menyerah. Rama yang loveable. Dan Arga yang keras kepala. Karakter
tokoh-tokoh dalam novel ini seperti nyata, atau jika meminjam istilah salah
seorang penulis, membumi.
Sayangnya, saya merasa perubahan sikap Arga pada Asha
terlalu cepat. Mungkin kalau hubungan mereka perlahan membaik, itu lebih oke,
mengingat bagaimana sikap Arga sebelumnya pada Asha yang sangat kasar. Ya, ini
pendapat saya sih, belum tentu pendapat pembaca yang lain, hehehe.
Jujur, saya baru ingat kalau novel ini termasuk salah
satu seri olahraga setelah selesai membaca, hehehe. Dan saya merasa pembahasan
tentang dunia tinju hanya sedikit. Lebih membahas tentang diet.
Tapiii, kalau kita melupakan unsur “seri olahraga”, novel
ini menarik. Selain banyak quotes keren, novel ini juga mengajarkan kita
banyak hal. Mulai dari sabar, mencintai tubuh, sampai ketegasan dalam memilih.
REVIEW
- Ternyata kenangan bahagia, tidak peduli selama apa pun tersimpan, selalu menghadirkan getar kerinduan ketika mengingatnya. (hal. 7)
- Waktu selalu bisa mengubah apa pun, termasuk karakter seseorang. (hal. 35)
- Kenangan tidak tersimpan dalam ingatan atau hati. Tetapi, pada benda atau tempat kenangan itu terjadi. (hal. 64)
- Tubuh itu nggak bisa diperlakuin seenaknya. (hal. 131)
- Sebesar apa pun kita menyesalinya, kita nggak akan pernah bisa mengubah masa lalu. (hal. 145)
- Siapa yang tidak ingin menjadi anak yang bisa dibanggakan oleh orangtuanya? (hal. 151)
- Manusia itu sama seperti istana pasir, mau dibangun sebagus atau setinggi apa pun akan ada saatnya untuk hancur. (hal. 161)
- Cuma manusia lemah yang tunduk sama emosinya. (hal. 185)
- Mengingat kenangan buruk tidak pernah menyenangkan. (hal. 186)
- Jangan sampai kamu kehilangan orang yang berarti buat kamu cuma karena masa lalu. (hal. 246)
- Satu orang yang bahagia jauh lebih baik daripada dua orang yang menderita karena cinta, kan? (hal. 251)
Untuk novel yang menjadi bacaan kedua di bulan Februari
2017 ini, saya berikan 3.8 bintang. :)

