Judul : Love in EdinburghPenulis : Indah Hanaco
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
232 halaman
Hadiah Giveaway via Instagram
Blurb
Katya adalah karyawati toko kue di Edinburgh yang aktif
sebagai relawan di beberapa badan amal.sementara Sebastian adalah pemilik
perusahaan parfum yang sedang menyiapkan masa depan bersama kekasihnya.
Lewat sebuah reality show berjudul Underground Magnate,
keduanya bertemu. Sejak awal, mereka punya banyak perbedaan. Katya, muslimah
yang menemukan Tuhan justru saat berada jauh dari kota kelahirannya, Jakarta.
Sebastian, pria Yahudi yang cenderung menjadi islamophobia usai ibunya menjadi
salah satu korban runtuhnya gedung WTC. Namun, ada terlalu banyak hal tak
terduga yang terjadi. Reaksi kimia di antara mereka terlalu kuat untuk
diabaikan.
Ketika akhirnya Katya dan Sebastian punya kans untuk
bersama, dosa masa lalu menghantui keduanya, menuntut penyelesaian. Bisakah cinta
membuat mereka tetap bertahan?
----------
Katya sering mendapatkan kekerasan dari Frans. Selama berbulan-bulan ia berusaha menutupi semuanya karena cinta. Namun semakin sering ia mendapat perlakuan kasar, ia semakin tidak kuat. Ia sempat mengadu pada kakak dan kedua orangtuanya, tetapi mereka
tidak percaya. Saat
Katya masuk rumah sakit karena ulah Frans, ia berusaha menjelaskan semuanya
pada keluarga, tetapi Frans tiba-tiba saja muncul dan berubah sikap menjadi
sangat baik. Katya menjadi ketakutan dan pada akhirnya memilih untuk pergi. Ia
awalnya memilih tempat sepupunya tinggal di London, tetapi rasa takut Frans
akan mengejarnya sampai ke sana membuat Katya memilih Edinburgh.
Dalam perjalanan menuju Edinburgh, ia bertemu dengan Evelyn Anderson di pesawat. Evelyn adalah pemilik
toko kue Sister Eve yang kemudian memperkenalkan Katya dengan banyak kegiatan
amal. Evelyn membawa Katya menemui Dave Archer, pastornya, yang terbiasa
menampung pengungsi dari Timur Tengah. Katya pun tinggal di salah satu kamar
kompleks gereja sebelum akhirnya menyewa flat.
Katya cukup aktif di kegiatan amal, yang kemudian
mempertemukannya dengan Sebastian. Pada saat itu, Sebastian mengikuti reality
show untuk mencari lembaga yang tepat diberi donasi. Ia tertarik dengan reality
show itu karena hubungannya dengan Bridget, tunangannya, sedang kacau, dan membutuhkan sesuatu yang bisa menjernihkan pikirannya.
Pada awal pertemuan mereka—Katya dengan Sebastian—hubungan mereka
cukup baik. Sebastian ramah dan Katya menyenangkan. Namun ketika kemudian
Sebastian melihat Katya shalat, ia menjadi berubah sinis. Ia membenci orang
Islam sejak ibunya menjadi korban runtuhnya gedung WTC. Ia menjadi
islamophobia. Namun ia tidak berlama-lama bersikap sinis pada Katya, karena ada
suatu kejadian yang membuatnya sadar bahwa apa yang dirasakannya selama ini
pada orang Islam adalah hal yang tidak adil. Hubungan mereka pun menjadi dekat.
Di sini, orang tidak dinilai berdasarkan agama atau
asalnya. Melainkan dari apa yang dilakukan orang itu. (hal. 57)
Kau tidak boleh menilai seseorang karena hal-hal yang
tidak bisa mereka ubah. Apa kau mau dinilai berdasarkan warna kulit dan
kebangsaanmu? (hal. 58)
Kami tidak menoleransi segala bentuk kebencian. Di sini,
kami mengajarkan untuk mengasihi orang lain tanpa syarat. (hal. 58)
Beramal akan menyeimbangkan hidup seseorang (hal. 50)
Orang yang takut pada murka Tuhan, yang menjalani
agamanya sebaik yang dia mampu, takkan sanggup menjahati orang lain (hal. 89)
Setelah acara reality show selesai, Sebastian kembali ke
London, akan tetapi hubungannya dengan Bridget justru semakin kacau. Perempuan itu terus menunda
pernikahan karena mengejar karir, sementara Sebastian ingin segera menikah. Karena
tidak menemukan solusi, mereka memutuskan untuk berpisah.
Ketika sedang patah hati, tiba-tiba Sebastian mendapatkan
kabar bahwa Katya terluka. Tanpa banyak pikir ia segera terbang ke Edinburgh
untuk memeriksa kondisi temannya itu. Kedatangannya membuat Katya terkejut
sekaligus terharu. Di sinilah Sebastian mulai merasa bahwa ia memiliki perasaan
khusus pada Katya.
Sebastian yang memiliki urusan dengan distributor prafum di
Indonesia, mengajak Katya untuk ikut. Awalnya Katya ragu, namun kemudian ia
memutuskan untuk menghadapi ketakutannya. Mereka pun terbang ke Indonesia. Namun
hal yang mengejutkan terjadi. Frans datang menjemput Katya.
Ini adalah buku Indah Hanaco yang keenam yang saya miliki. Sejak
pertama kali membaca karyanya beberapa tahun lalu, Cinta Tanpa Jeda, saya
langsung jatuh cinta pada tulisannya. Sejak saat itu juga saya berambisi untuk
memiliki seluruh karyanya.
Love in Edinburgh termasuk novel yang unik. Bercerita tentang
kisah cinta namun ada nilai-nilai islami di dalamnya. Ini kali pertama saya
membaca tulisah Indah Hanaco yang ada unsur religi (meski sebenarnya penulis sudah menerbitkan beberapa novel Islami) dan saya suka bagaimana penulis
menyisipkan nilai-nilai itu di dalam novel romance. Tidak terkesan mendikte,
justru tanpa sadar membuat pembaca merenung. Keren.
Saya suka penulis mengangkat hal-hal yang ada menurut saya
masih jarang diangkat sebagai tema, yaitu kegiatan amal. Beberapa kegiatan yang
dilakukan Katya membuat saya ingin ikut menjadi relawan. Membuat saya tergerak
untuk menolong siapa saja yang membutuhkan pertolongan, selama saya mampu.
Tidak seperti novelnya yang lain, di mana saya tergila-gila
dengan tokoh laki-laki, di sini saya justru amat sangat kagum pada tokoh Katya.
Saya merasakan perjuangan yang luar biasa yang ditempuh Katya untuk hidup
sebagai minoritas. Saya juga benci amat sangat pada Frans. Meski bagian Frans hanya sedikit, tetapi sangat menegangkan.
Sayangnya, saya merasa hubungan Katya dengan Sebastian
kurang "menggigit". Kalau saja lebih digali lebih dalam mengenai kedekatan mereka, saya
rasa novel ini akan sempurna. Dan lagi,
saya menemukan beberapa typo dalam novel ini. Tidak banyak, namun cukup menganggu. Tetapi saya rasa itu adalah bagian proofreader.
:D
3,5 bintang untuk perjuangan Katya di Edinburgh :)