Rabu, 16 Desember 2015

Review: The Mocha Eyes




The Mocha Eyes
Aida M.A.

Sinopsis
Komposisi:
Cinta, Kejujuran, Kelembutan, Perubahan, dan Moka

Cara Penyajian:
Tuangkan kejujuran, kelembutan, perubahan, dan moka ke dalam cangkir. Tambahkan 180cc air cinta, aduk dan sajikan.

Kehadiranmu menjadi hal kutunggu
Kusesap kelembutanmu dengan senyuman
Menafikan sedikit pahit karena ternyata terasa manis
Kamu dan aku seperti dua hal yang terlihat senada tetapi berbeda
Karena aku justru menemukanmu dalam sepotong cinta
Ya, menunggumu bersatu denganku
Seperti mencari rasa cokelat dalam secangkir mochaccino
Karena aku tak akan merasakan manis
dalam setiap hal yang tergesa-gesa
kecuali semuanya tiba-tiba menghilang ….

Novel The Mocha Eyes ini adalah novel pertama karya Aida M.A. yang aku baca. Pertama lihat covernya langsung tertarik, ditambah lagi dengan sinopsisnya yang nggak kalah menarik.

Novel ini menggunakan sudut pandang campuran dalam penyajian tokohnya. Tokoh utama menggunakan sudut pandang orang pertama, yaitu "Aku" dengan nama Muara atau yang akrab disapa Ara, dan tokoh Fariz menggunakan sudut pandang orang ketiga serbatahu.

Muara adalah seorang gadis yang belum sempat lulus kuliah. Dia bekerja di sebuah minimarket sebagai kasir. Tetapi dia dipecat karena datang terlambat. Itu bukan yang pertama kalinya dia diberhentikan oleh bos. Tetapi dia tidak pernah merasa sedih. Yang dirasakannya datar. Dia seperti manusia yang aneh.

Ara memang bukan lagi Ara yang dulu. Dia sudah berubah dari gadis periang, ceria, dan ramah menjadi gadis yang pendiam dan antisosial. Ini semua disebabkan oleh satu hal: kehormatannya direnggut oleh seorang psikopat. Akibat musibah yang menimpa Ara itu kondisi psikologisnya sedikit tertekan. Sampai akhirnya dia bertemu dengan Damar, salah seorang pelanggan di minimarket tempat Ara bekerja. Dengan perkenalan yang aneh mereka berpacaran. Menurutku memang agak aneh karena Damar secara to the point meminta Ara menjadi pacarnya dan Ara sama sekali tidak menolak. 

Mereka pun berpacaran, tetapi kemudian Damar memutuskan Ara karena tidak tahan dengan 'keanehan' gadis itu. Ara tidak pernah menanggapi ucapannya dan Damar merasa lelah menghadapi orang seperti itu. Satu hal yang Ara sesali adalah setelah Damar memutuskannya, laki-laki itu bersama perempuan lain.

Ara lalu bekerja di restoran ayam goreng di sebuah mal. Meski pendiam, Ara memiliki wajah yang cukup menarik, sehingga membuat Genta, store manager di restoran itu ingin mendekatinya. Berulang kali Genta mengajaknya makan malam atau menonton, tetapi Ara selalu menolak.

(Hm, menurutku dia trauma sama cowok. :D
Nah, setelah bab tentang Aku-nya si Ara ini, penulis menceritakan tentang kehidupan Fariz dengan sudut pandang orang ketiga)

Ara kemudian mengikuti training di Puncak bersama salah satu temannya, yaitu Ratri, dan menginap di vila selama menjalani training tersebut. Tetapi Ara tidak mengikuti semua kelas. Dia malah merokok di dekat WC dan makan di warung. Agak kecewa sih karena Ara digambarkan sebagai perokok. :( Tapi mungkin ini untuk memperjelas betapa telah sangat berubahnya Ara.

Ketika Ara sedang asyik merokok di dekat WC, salah seorang trainer yang kebetulan juga ke WC, mendekat. Dia menegur Ara yang tidak masuk ke kelas. Dia adalah ... Fariz! Fariz memang diceritakan sebagai seorang laki-laki yang bekerja di sebagai trainer. Dia sangat tampan dan menjadi idola para peserta training, tetapi tidak dengan Ara. Ara cuek-cuek saja dengan ketampanan yang dimiliki Fariz.

Sebagai laki-laki yang tampan, baik hati dan mapan, Fariz tentu memiliki banyak penggemar. Salah duanya adalah Sara, seorang gadis SMA yang menjadi klien-nya dan Meisha, rekan kerjanya di kantor. Tetapi dia tidak pernah menanggapi mereka dengan serius. Dia bukan ingin mempermainkan mereka, tetapi karena pernah batal menikah, dia menjadi ... ya katakanlah sedikit hati-hati. Apalagi belakangan dia sering memimpikan siluet perempuan yang entah siapa. Dan dia ingin menemukan siapa pemilik siluet itu.

(Sampai sini udah ketebak kali ya, endingnya? :D Tapi jangan dulu berhenti baca, karena kalian akan menemukan sisi Fariz yang membuat jatuh cinta!! Haha.)

Sebagai seorang trainer, Fariz dapat melihat bahwa Ara memiliki masalah. Beberapa kali dia berusaha mengajak Ara mengobrol, tetapi gadis itu selalu bersikap dingin. Semakin sulit didekati, semakin penasaranlah Fariz. Ah ya, Ara juga selalu minum kopi pahit, seolah itu menggambarkan kehidupan yang sedang dijalaninya.

Suatu waktu, Ara sedang duduk di teras vila sambil menikmati secangkir kopi hitam pahit. Dia merasa susah tidur. Sebenarnya ini bukan kali pertama Ara begitu. Karena sudah pernah melihat Ara di tempat itu sebelumnya, Fariz keluar dari kamar sambil membawa secangkir cokelat. Dia duduk di kursi sebelah meja dan meletakkan cangkir cokelatnya di sana. Mereka lalu mengobrol dan Ara cukup banyak bicara malam itu, tentang kopi pahit. Fariz lalu mengambil cangkir Ara dan menuangkan ke cangkirnya yang isinya tinggal setengah. Dia kemudian menyuruh Ara mencicipi gabungan antara kopi dengan cokelat itu. Ara pun memberanikan diri menenggak minuman itu dengan ragu. Apakah dia akan menyukai rasanya?? Baca saja!! :D

Training selesai. Ara dan Fariz berpisah. Waktu terus berjalan. Ara akhirnya merasa harus berubah. Dia datang ke kantor Fariz untuk menceritakan semua yang ada di hatinya. Ketika Fariz dan Ara mulai dekat karena Fariz memang bekerja untuk memberikan klien-nya motivasi, ada Meisha yang menjadi pengganggu. Ada juga Damar yang minta kembali setelah Ara terlihat 'NORMAL'. -_-

Tadinya mau cerita di sini sampai tamat, tapi lebih baik baca sendiri, sih, supaya feel-nya dapet. Pokoknya langsung jatuh cinta sama Fariz deh. Apalagi ketika penulis menggambarkan sosoknya sebagai laki-laki yang mau mendengarkan. ^^

Gambaran tentang Fariz:

Hal. 168
               "Kamu tunggu di sini, lima menit! Lima menit, ya!" ucapnya cepat, lalu mulai menaiki tangga eskalator, langkah kakinya buru-buru tanpa menunggu tangga otomatis itu membawa tubuhnya sampai ke lantai atas. Memang belum sampai lima menit, laki-laki itu sudah kembali dengan ransel kerja dan jaketnya yang selalu membuatnya tampil elegan.

               (Dari adegan ini aku membayangkan kalau Fariz sosok yang periang dan menyenangkan :))

Masih di hal. 168
               "Laki-laki itu sama sekali tidak memaksaku untuk bercerita. Ia malah sibuk dengan makanan di depannya. Ia seperti membiarkanku mengambil keputusanku sendiri." 
               ....................................
              "Laki-laki itu langsung menghadapkan sepenuh tubuh dan matanya kepadaku. Bahasa tubuhnya itu membuatku merasa sedang didengarkan dengan baik."  
 

                (Bahasa tubuhnya Fariz itu lhooo, bikin aku klepek-klepek ^^ Lebay? Biarin! :P) 

Untuk novel ini, aku kasih bintang 4. 

I Feel You: My First 'Baby'

Tahun 2013 adalah tahun yang super buatku. Spesial. Bukan hanya bisa ke Payakumbuh lagi, tapi karena novel pertamaku lahir di tahun itu.

Novel berjudul I Feel You ini tebalnya 199 halaman. Diterbitkan oleh Media Pressindo, salah satu penerbit mayor di Yogyakarta.

Aku mau cerita tentang bagaimana novel ini bisa lahir.

Jadi, saat kuliah semester tiga, dosen Pengantar Ilmu Sastra memberi tugas akhir membuat satu buah karya, novel atau antologi puisi. Tanpa banyak pikir, aku memilih membuat novel.

Novel untuk tugas mata kuliah tersebut kuberi judul Cinta Untuk Tabina. Dengan tebal 150 halaman a5, aku menyelesaikannya dalam waktu tiga bulan. Novel inilah kondisi mentahnya I Feel You. Setelah dikumpulkan, aku penasaran ingin membaca ulang. Saat itulah kutemukan beberapa hal yang 'mengganggu'. Aku mengubah beberapa bagian, lalu tidak kulirik lagi.

Di hari ulang tahun someone, aku bermaksud memberikan tulisanku itu sebagai hadiah. Tentunya ditambah dengan beberapa cerita lain yang kuambil dari kisah kami. Sebelum memberikannya, aku merevisi lagi novel tersebut.

Bukan hanya sampai di situ, di bulan Juli 2012, kalau tidak salah, tidak sengaja aku melihat informasi lomba menulis novel di salah satu penerbit di Bandung. Aku pun merevisi lagi sampai akhirnya kuubah judul menjadi Cintaku Berlabuh di Stasiun. Dengan judul tersebutlah aku mengikuti lomba.

Menghabiskan cukup banyak biaya ketika harus mengantarkan naskah tersebut. Saat itu aku belum punya printer, jadi harus prin di kampus. Setelah itu aku dan someone harus naik angkot untuk sampai ke kantor. Sempat salah turun, sehingga kami harus berjalan cukup jauh. Setelah bersusah-susah, akhirnya naskah itu sampai juga ke tangan resepsionis. Namun memang belum waktunya, aku kalah.

Kecewa? Tentu. Apalagi pemula. Mentalku masih lemah. Aku pun pergi ke toko buku untuk menghilangkan rasa sedih. Someone pun membelikanku tiga buah novel. Di salah satu novel tersebut, di bagian belakangnya, ada cara untuk mengirimkan karya. Aku pun kembali bersemangat. Kembali kurevisi naskah yang kalah lomba. Aku merevisi secara besar-besaran. Di bulan Desember, naskah yang akhirnya kuberi judul Martabak Manis (judul ini untuk menarik hati editor) kukirim ke penerbit Media Pressindo via email.

Di bulan Januari, ketika pulang kuliah, aku mendapatkan pesan singkat yang tidak akan pernah kulupa. Isinya mengatakan bahwa mereka (penerbit) tertarik untuk menerbitkan naskahku. Sebelumnya mereka menelepon, tetapi tidak terangkat karena aku sedang di kelas. Aku merasa seperti melayang saat itu. Perasaan tersebut masih sangat kuingat sampai saat ini. Begitu sampai di rumah, aku segera menghubungi mereka. Pihak penerbit mengatakan ingin bagian ending dan judul diubah. Aku pun setuju. Lalu mereka bertanya tentang teknis pembayaran seperti apa yang kuinginkan. Jual putus atau ambil royalti 10% dari harga penjualan yang akan dibayar setiap enam bulan sekali.

Setelah berpikir dan berkonsultasi dengan si dia, aku memilih jual putus. Pertimbangannya hanya satu ketika itu: aku belum punya laptop. Tentang hal ini tidak langsung kukatakan kepada keluarga. Aku takut naskahku tidak jadi terbit, maklum, masih pemula. Jadi, beberapa hari kemudian, setelah aku mendapatkan bayaran dari penjualan novel tersebut, barulah aku memberi tahu keluarga. Senang? Jangan ditanya. Pastilah.

Awalnya, dijanjikan novelku akan terbit April. Tetapi sampai Mei, belum juga muncul. Sebagai pemula tentu aku khawatir. Aku jadi rajin bertanya. Hampir setiap pekan. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya wajar karena prosesnya pasti tidak sebentar. Ya maklum sajalah ketika itu kan belum tahu tentang dunia penerbitan.

Di bulan Juni, 1 Ramadhan, akhirnya paket novelku datang. Sepuluh eksemplar novel untukku tiba di rumah dengan selamat.



Senaaang sekali rasanya. Apalagi ketika datang ke toko buku dan melihat ada novelku di sana. Rasanya senang, tidak percaya, sekaligus malu.




Dari terbitnya novel ini pulalah aku mendapatkan beasiswa dari kampus. Alhamdulillah...

Setelah novel ini lahir, lantas bagaimana? Ya aku terus menulis. Meski selama dua tahun setelah novel pertamaku lahir yang kudapat hanyalah penolakan dan penolakan, aku tetap menulis. Karena aku hidup untuk menulis. Cieee, hahahaha.. Tapi serius, kok. ^^

Bantu doakan supaya ada 'anakku' yang lahir lagi ya. Buat kalian yang juga suka nulis, ayo kita sama-sama berjuang jadi penulis. :D