Rabu, 16 Desember 2015

I Feel You: My First 'Baby'

Tahun 2013 adalah tahun yang super buatku. Spesial. Bukan hanya bisa ke Payakumbuh lagi, tapi karena novel pertamaku lahir di tahun itu.

Novel berjudul I Feel You ini tebalnya 199 halaman. Diterbitkan oleh Media Pressindo, salah satu penerbit mayor di Yogyakarta.

Aku mau cerita tentang bagaimana novel ini bisa lahir.

Jadi, saat kuliah semester tiga, dosen Pengantar Ilmu Sastra memberi tugas akhir membuat satu buah karya, novel atau antologi puisi. Tanpa banyak pikir, aku memilih membuat novel.

Novel untuk tugas mata kuliah tersebut kuberi judul Cinta Untuk Tabina. Dengan tebal 150 halaman a5, aku menyelesaikannya dalam waktu tiga bulan. Novel inilah kondisi mentahnya I Feel You. Setelah dikumpulkan, aku penasaran ingin membaca ulang. Saat itulah kutemukan beberapa hal yang 'mengganggu'. Aku mengubah beberapa bagian, lalu tidak kulirik lagi.

Di hari ulang tahun someone, aku bermaksud memberikan tulisanku itu sebagai hadiah. Tentunya ditambah dengan beberapa cerita lain yang kuambil dari kisah kami. Sebelum memberikannya, aku merevisi lagi novel tersebut.

Bukan hanya sampai di situ, di bulan Juli 2012, kalau tidak salah, tidak sengaja aku melihat informasi lomba menulis novel di salah satu penerbit di Bandung. Aku pun merevisi lagi sampai akhirnya kuubah judul menjadi Cintaku Berlabuh di Stasiun. Dengan judul tersebutlah aku mengikuti lomba.

Menghabiskan cukup banyak biaya ketika harus mengantarkan naskah tersebut. Saat itu aku belum punya printer, jadi harus prin di kampus. Setelah itu aku dan someone harus naik angkot untuk sampai ke kantor. Sempat salah turun, sehingga kami harus berjalan cukup jauh. Setelah bersusah-susah, akhirnya naskah itu sampai juga ke tangan resepsionis. Namun memang belum waktunya, aku kalah.

Kecewa? Tentu. Apalagi pemula. Mentalku masih lemah. Aku pun pergi ke toko buku untuk menghilangkan rasa sedih. Someone pun membelikanku tiga buah novel. Di salah satu novel tersebut, di bagian belakangnya, ada cara untuk mengirimkan karya. Aku pun kembali bersemangat. Kembali kurevisi naskah yang kalah lomba. Aku merevisi secara besar-besaran. Di bulan Desember, naskah yang akhirnya kuberi judul Martabak Manis (judul ini untuk menarik hati editor) kukirim ke penerbit Media Pressindo via email.

Di bulan Januari, ketika pulang kuliah, aku mendapatkan pesan singkat yang tidak akan pernah kulupa. Isinya mengatakan bahwa mereka (penerbit) tertarik untuk menerbitkan naskahku. Sebelumnya mereka menelepon, tetapi tidak terangkat karena aku sedang di kelas. Aku merasa seperti melayang saat itu. Perasaan tersebut masih sangat kuingat sampai saat ini. Begitu sampai di rumah, aku segera menghubungi mereka. Pihak penerbit mengatakan ingin bagian ending dan judul diubah. Aku pun setuju. Lalu mereka bertanya tentang teknis pembayaran seperti apa yang kuinginkan. Jual putus atau ambil royalti 10% dari harga penjualan yang akan dibayar setiap enam bulan sekali.

Setelah berpikir dan berkonsultasi dengan si dia, aku memilih jual putus. Pertimbangannya hanya satu ketika itu: aku belum punya laptop. Tentang hal ini tidak langsung kukatakan kepada keluarga. Aku takut naskahku tidak jadi terbit, maklum, masih pemula. Jadi, beberapa hari kemudian, setelah aku mendapatkan bayaran dari penjualan novel tersebut, barulah aku memberi tahu keluarga. Senang? Jangan ditanya. Pastilah.

Awalnya, dijanjikan novelku akan terbit April. Tetapi sampai Mei, belum juga muncul. Sebagai pemula tentu aku khawatir. Aku jadi rajin bertanya. Hampir setiap pekan. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya wajar karena prosesnya pasti tidak sebentar. Ya maklum sajalah ketika itu kan belum tahu tentang dunia penerbitan.

Di bulan Juni, 1 Ramadhan, akhirnya paket novelku datang. Sepuluh eksemplar novel untukku tiba di rumah dengan selamat.



Senaaang sekali rasanya. Apalagi ketika datang ke toko buku dan melihat ada novelku di sana. Rasanya senang, tidak percaya, sekaligus malu.




Dari terbitnya novel ini pulalah aku mendapatkan beasiswa dari kampus. Alhamdulillah...

Setelah novel ini lahir, lantas bagaimana? Ya aku terus menulis. Meski selama dua tahun setelah novel pertamaku lahir yang kudapat hanyalah penolakan dan penolakan, aku tetap menulis. Karena aku hidup untuk menulis. Cieee, hahahaha.. Tapi serius, kok. ^^

Bantu doakan supaya ada 'anakku' yang lahir lagi ya. Buat kalian yang juga suka nulis, ayo kita sama-sama berjuang jadi penulis. :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar