Minggu, 28 April 2019

Berkelana ke Dunia Paralel


BERKELANA KE DUNIA PARALEL




Judul: Ceros dan Batozar
Penulis: Tere Liye
Jumlah halaman: 376 halaman
ISBN: 9786020385914
Terbit Mei, 2018

Judul: Komet
Penulis: Tere Liye
Jumlah halaman: 384 halaman
ISBN: 9786020385945
Terbit Juli, 2018

Judul: Komet Minor
Penulis: Tere Liye
Jumlah halaman: 376 halaman
ISBN: 9786020623399
Terbit Maret, 2019


Ceros dan Batozar, Komet, dan Komet Minor adalah kelanjutan dari empat novel sebelumnya—Bumi, Bulan, Matahari, dan Bintang—yang berkisah tentang petualangan tiga sekawan: Raib, Seli, dan Ali di dunia paralel. Ketiga remaja itu adalah murid SMA yang ternyata memiliki kekuatan. Raib bisa menghilang, berteleportasi, dan menyembuhkan diri serta orang lain. Seli memiliki kekuatan mengeluarkan petir. Ali mampu berubah menjadi beruang jika dia sedang marah.

Di novel-novel sebelumnya, ketiga sekawan ini berkelana ke Klan Bulan, Matahari, dan Bintang. Mereka mengejar seseorang, yaitu Si Tanpa Mahkota, yang menginginkan kekuatan tanpa batas. Si Tanpa Mahkota mencari sumber kekuatan itu di Klan Komet.

Pada novel Ceros dan Batozar terdapat dua cerita berbeda yang masih berhubungan. Pertama adalah kisah Ceros. Kedua, kisah Batozar. Pada cerita pertama, Raib, Seli, dan Ali mengikuti study tour dari sekolah. Tanpa sengaja mereka menemukan sebuah klan baru (Klan Aldebaran), yang terlacak oleh kapsul terbang buatan Ali. Dengan mengaktifkan mode menghilang pada kapsul, mereka bertiga berkelana ke tempat tersebut dan bertemu dengan si Kembar Ceros: Ngglanggeran dan Ngglanggeram. Di sini, pembaca akan melihat bagaimana pengorbanan dalam persahabatan begitu terasa.

“Ketahuilah, bukan teknik bertarung, bukan menghancurkan gunung-gunung kekuatan terbaik dunia paralel, melainkan persahabatan.”
(Ceros dan Batozar, hal. 124)

Setelah pulang dari Klan Aldebaran, Raib, Seli, dan Ali, bertemu dengan Batozar—seorang pengintai. Batozar memiliki tubuh besar, salah satu matanya rusak, dan ada luka di wajahnya. Pada cerita ini, Tere Liye memberikan penggambaran bahwa seseorang tidak bisa dinilai dari fisiknya saja. Di sini juga kita akan melihat bagaimana Raib mendapat tekanan dari Batozar untuk melakukan hal yang diinginkannya. Kisah ini benar-benar menyedihkan.

“Aku memang lemah, tapi aku akan mencoba berdiri tegak.”
(Ceros dan Batozar, hal. 298)

Novel berikutnya adalah Komet. Pada novel ini, Raib, Seli, dan Ali, pergi ke Klan Komet mengejar Si Tanpa Mahkota yang pergi ke tempat tumbuhan aneh berada. Mereka melewati tujuh pulau, mulai Pulau Hari Senin sampai Pulau Hari Minggu. Di sini, perjuangan mereka untuk sampai ke pulau tumbuhan aneh tidak mudah. Ada satu kunci yang selalu mereka pegang, yaitu berbuat baik.

“Sesuatu yang paling hebat adalah perbuatan baik.”
(Komet, hal. 87)

Sempat tersebar kabar bahwa Komet adalah buku terakhir dari seri ini. Namun ternyata tidak. Masih ada Komet Minor yang menceritakan bagaimana akhir dari kisah Raib, Seli, Ali, dan Si Tanpa Mahkota. Mereka berusaha untuk mendapatkan tiga potongan senjata yang memiliki kekuatan. Pada buku terakhir ini, nasib salah satu dari tiga sekawan di ujung tanduk, dan pembaca akan melihat bagaimana kuatnya persahabatan mereka.

“Hanya karena sesuatu itu terlihat buruk, tidak otomatis jadi buruk betulan. Pun sebaliknya, hanya karena sesuatu terlihat baik, tidak otomatis memang baik sesungguhnya. Mungkin saja ada hikmah yang tersembunyi, yang tidak kita pahami.” (Komet Minor, hal 366)

***

Tidak diragukan lagi, tulisan Tere Liye selalu memikat pembaca. Hal ini karena Tere Liye selalu mengambil ide dari hal-hal sederhana sehingga dekat dengan pembaca. Cerita pada novel berseri ini disampaikan dengan bahasa yang populer dengan kehidupan sehari-hari. Porsi showing dan telling begitu pas sehingga tidak membosankan.

Penulis juga berhasil membuat cerita terasa begitu seru dengan karakter tokoh yang berbeda-beda dan guyonan mereka yang renyah tapi menyentil. Raib memiliki karakter yang bertanggung jawab dan bijak. Namun, dia keras kepala, sulit diajak bicara dan seringkali merasa bersalah atas sesuatu hal. Seli digambarkan sebagai sosok yang cukup sensitif. Dia peragu, suka mencemaskan banyak hal dan selalu mementingkan orang lain. Sementara Ali adalah remaja laki-laki yang cuek, ceroboh, tetapi sangat pintar. Karakter mereka yang membumi membuat merasa benar-benar seperti nyata.

Secara keseluruhan, novel seri ini sangat menarik. Namun, pada novel Komet alur terasa begitu lambat. Meskipun demikian, Komet memiliki plot twist yang patut diacungi jempol. Bukan hanya itu, akhir cerita tentang Miss Selena dan tokoh-tokoh penting dari Klan Bulan, Klan Matahari, dan Klan Bintang juga tidak dijelaskan lebih lanjut, padahal mereka yang ‘mengantar’ ketiga sekawan masuk ke Klan Komet.

Tidak ada yang sia-sia. Itulah yang akan pembaca dapatkan dari novel-novel ini. Bukan hanya diajak bersenang-senang dengan petualangan Raib, Seli, dan Ali, tapi juga diajak merenung tentang kehidupan karena cukup banyak kalimat yang mengandung satire. Beberapa di antaranya:

“Lebih baik kelaparan daripada mencuri.” (Komet, hal. 86)

“Apa pun makanan yang tersedia, kamu makan saja, bukan mengomentarinya. Apalagi kamu sampai sibuk berfoto-foto.” (Komet Minor, hal. 92)

Melalui persahabatan Raib, Seli, dan Ali, pembaca diajarkan tentang bagaimana persahabatan yang tulus. Melalui petualangan mereka melawan musuh, pembaca diajak untuk memahami makna bekerja sama dan semangat untuk mencapai tujuan.

Dua kata untuk novel-novel ini: Super badasss!