Jumat, 10 November 2017

[Review] A Thing Called Us



Judul: A Thing Called Us
Penulis: Andry Setiawan
Penyunting: Ayuning
Penerbit: Haru
Jumlah halaman: 290 halaman

Blurb
Ini kisah cinta yang biasa.
Tentang tiga orang sahabat.
Tentang mereka yang memendam perasaan masing-masing.
Shun, Kotoha, dan Shinji sudah berteman sejak kecil.
Sampai suatu saat, Shinji tiba-tiba memutuskan untuk menghilang dari kehidupan mereka tanpa memberi kabar secuil pun.

Setelah lima tahun berlalu, Kotoha masih menunggu Shinji pulang.
Sementara itu, Shun menunggu Kotoha melupakan pria itu.
Namun, mau sampai kapan mereka saling menunggu?
Mereka hanya bisa berharap, kisah cinta yang biasa ini tidak berakhir dengan penyesalan.


Ulasan Kisah dan Kesan

Kisah dimulai setelah lima tahun Shinji menghilang. Shun dan Kotoha yang masih bersama, sulit untuk melupakan. Apalagi Kotoha, yang bisa dibilang cinta mati kepada Shinji. Sementara Shun, tidak berhenti berharap Kotoha akan memahami perasaannya. Sebenarnya Shun sudah mengungkapkan perasaan, tetapi Kotoha selalu mengabaikan. Tidak menerima, juga tidak menolak.
Posisi Shun di sini benar-benar menyakitkan karena Kotoha mempermainkan perasaannya. Apalagi saat dia tahu ada perempuan yang menyukai Shun. Di satu sisi, dia tidak mau kehilangan Shun. Tapi di sisi lain, dia tidak bisa menerima Shun menjadi kekasihnya. Padahal, Shun selalu ada untuk Kotoha. Dia selalu menemani gadis itu. Tapi Kotoha bahkan tidak mau membaca apalagi mengangkat telepon dari Shun. Menyebalkan!
Dari awal membaca novel ini saya sudah merasakan kemuraman yang sangat kental karena langsung ditunjukkan bagaimana kondisi Shun dan Kotoha setelah lima tahun Shinji menghilang. Tapi bukan berarti suasana kelam membuat bosan, karena ada dua tokoh periang di antara mereka, yaitu Aki dan Hayato.
Aki diceritakan sebagai rekan kerja Shun, dan Hayato bos mereka. Karakter mereka yang cuek, seenaknya, menjadi pewarna tersendiri dalam novel ini.
Dengan menggunakan POV 3 serba tahu, penulis berhasil menggambarkan perasaan setiap tokoh sehingga pembaca mampu menyelami karakter mereka. Gaya bahasa yang digunakan seperti terjemahan, tapi ringan dan mengalir. Jadi tidak perlu khawatir kalau kalian tidak suka baca buku terjemahan.
Oh ya, karakter yang paling saya suka adalah Aki, seorang cewek mungil, ceriwis, dan suka susu stroberi. Sedangkan karakter yang tidak saya suka adalah Kotoha, karena yang dia lakukan kepada Shun sangat kejam!
Saya menyukai novel ini, nyaris semuanya! Cover, tema, gaya bahasa, alur, sampai penyelesaian masalah di antara mereka. Apalagi ketika bagian Shun dan keluarganya, itu benar-benar natural dan menguras emosi. Tapi, yang saya lihat kurang adalah porsi untuk Shinji. Ini kisah mereka bertiga, tapi kenapa Shinji sedikit sekali diceritakan? Bukan berarti novel ini diselesaikan dengan terburu-buru, hanya saja saya merasa kurang saja di bagian Shinji.
Meski demikian, saya suka novel ini!
Salah satu novel terbaik yang pernah saya baca.
Saya bahkan mungkin akan membacanya sekali lagi. Atau dua kali? Atau malah lebih?


Quotes Keren

Tetap saja, diabaikan itu rasanya tidak menyenangkan. –hal. 46

Murung tidak akan menyelesaikan masalah, kan? –hal. 48
Kita tidak bisa menahan perasaan kita sendiri, kan? Apalagi memaksakan perasaan kita. –hal. 50

Ada segelintir orang yang tidak ingin dibantu. –hal. 51

Kita tidak bisa tidak melakukan apa-apa jika kita menyukai seseorang, kan? –hal. 61

Dan lagi, perasaanbukan mainan. –hal. 86

Ada hubungan di dunia ini yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan satu kata ‘suka’. –hal. 89

Rating

Cover: 5/5
Tema: 3.5/5
Karakter: 4/5
Gaya bahasa: 4/5
Konflik: 4/5

Overall: 4/5

Kamis, 09 November 2017

[Review] Labirin



Judul: Labirin
Penulis: Aci Baehaqie
Penerbit: Bhuana Sastra
Penyunting: Jia Effendi
Jumlah halaman: 356 halaman

Blurb

Berbagai episode hidup telah dilewati Ayla, hingga pada suatu saat, ia membuat suatu keputusan yang membawanya pada penyesalan panjang dan menyeretnya menuju sebuah labirin yang rumit.

Labirin masa lalu itu harus ia lewati satu per satu, sehingga pada akhirnya, ia bisa menemukan jalan keluar, dan dengan rela melepaskan bagian yang amat berharga dalam hidupnya.

Ulasan Kisah dan Kesan

Pertama-tama, saya ucapkan kepada Kak Aci karena sudah mempercayai saya untuk mereview novel ini.
Baiklah, kita mulai mengulas novel ini. Oh ya, saya tidak akan terlalu rinci menjelaskan jalan ceritanya ya, karena sangat rawan spoiler. ^^

Labirin berkisah tentang Ayla, seorang arsitek, yang pergi ke tempat-tempat di Indonesia dan dunia untuk melupakan masa lalu. Ayla memiliki dua sahabat, Kayla dan Emi. Mereka bertiga memiliki permasalahan masing-masing.
Ayla dengan kekasihnya Anthony yang berbeda keyakinan, Kayla yang memiliki kekasih kasar, dan Emi yang menggunakan narkoba. Ada satu cowok lagi bernama Igo, sahabat Ayla juga, yang mengaku gay.
Masalah setiap tokoh dalam novel Labirin begitu rumit, pelik. Saya bahkan merasa masalah-masalah mereka tidak bisa diselesaikan dengan mudah. Apalagi tema-tema sensitif begini cukup jarang diangkat. Tetapi saya acungi empat jempol untuk keberanian penulis dan cara penulis menyelesaikannya.
Awalnya, saya sedikit kesulitan dengan alur maju-mundur yang digunakan. Tapi setelah membaca lembar demi lembar, saya mulai terbiasa.
Dari semua tokoh yang ada, saya merasa karakter paling kuat adalah Ayla, Anthony, Igo, dan Emi. Karakter mereka konsisten, terasa nyata. Apalagi Emi, yang sikapnya berubah-ubah dan emosinya tidak stabil setelah mengonsumsi obat-obatan terlarang.
Saya suka dengan pemilihan POV 1 yang digunakan penulis. Membuat saya merasakan bagaimana karakter Ayla berkembang. Gaya bahasa yang digunakan sebenarnya ringan, meskipun sesekali ada ketidakkonsistenan. Saya lupa menandai halaman berapa, tapi itu bukan masalah karena saya tetap dapat menikmati novel ini.
Hanya saja, ada hal yang membuat saya kurang puas. Karakter Kayla kurang tereksplore. Saya juga merasakan kehadirannya mulai berkurang di sepertiga menjelang ending. Sayang sekali. Dia seperti tiba-tiba hilang.
Saya berani bilang novel ini bukan sembarang bacaan. Kenapa? Karena ada banyak informasi yang bisa kita dapatkan. Bahkan juga tentang tempat-tempat yang Ayla kunjungi, seperti Milan, Florence, Granada, sampai Flores. Saya juga mendapatkan banyak sekali kalimat-kalimat perenungan dalam novel ini. Bahkan saya merasa novel ini mengisi sesuatu yang kosong di hati. Sulit dijelaskan, tapi itulah yang saya rasakan.

Quotes

Kenangan dapat membantingmu tanpa ampun ke masa lalu, meskipun dengan susah payah kau mencoba melupakannya. –hal. 2

Dalam hidup, terkadang tidak penting bagaimana kamu memulainya, yang terpenting adalah bagaimana kamu mengakhirinya. Berhasil atau tidak tergantung perspektifmu. –hal. 92

Jangan pernah melepaskan kesempatan karena waktu atau kesempatan itu tidak akan terulang lagi. –hal. 92

Hal terbaik dari ikut sayembara kan dapat pengalaman dan pengetahuan yang baru. –hal. 97

Kita akan bertemu Tuhan, masa tidak mengenakan pakaian yang terbaik? –hal. 134
Laki-laki yang baik, enggak akan menggunakan tangannya untuk berbicara, untuk didengarkan. –hal. 141

Cinta itu bukan soal membebaskan, tapi juga mengenai keegoisan. Egoislah untuk mencintai seseorang. Karena, ketika lo egois, lo bisa melakukan segala hal. Melindunginya, menyayanginya, dan menjaganya. –hal. 183

Keserakahan selalu hanya akan menghancurkan seseorang. –hal. 218

Belajar itu enggak harus di sebuah institusi. Kamu bisa belajar lewat mana saja. Lewat buku atau berbincang dengan orang asing.... –hal. 232

Selalu harus ada harga yang dibayar dari sebuah pilihan. –hal. 272

Cara untuk bahagia yang paling mudah adalah berdamai dengan masa lalu. –hal. 281

Jangan pernah menyesali semua keputusan yang kamu telah kamu ambil, karena ketika kamu sudah ada di jalan itu, there’s no way to turn back. –hal. 302

Air mata bukan lambang dari kelemahan. Di saat-saat yang tepat, di saat seperti ini, air mata bisa berbicara pada dunia mengenai betapa kuat si pemiliknya. –hal. 315

Kadang kala, di sebuah kehidupan, ada beberapa hal yang tidak ada jawabannya. –hal. 324

Terkadang, tidak semua hal butuh alasan, bukan? –hal. 324

Ada begitu banyak hal yang indah ketika kita tersesat, yaitu saling menemukan. –hal. 340

Rating

Cover: 5/5
Tema: 4/5
Karakter: 3.8/5
Konflik: 4/5
Gaya bahasa: 4/5

Overall: 4/5