Jumat, 15 September 2017

[Review] Insecure



Judul: Insecure
Penulis: Seplia
Editor: Midya N. Santi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 240 halaman

Blurb
Zee
Jangan menatap luka dan memar di tubuhku.
Jangan berani bertanya apa yang terjadi.
Menjauh saja dariku.
Hanya dengan begitu, aku merasa aman.

Sam
Meski orang lain menganggap otak gue nggak guna,
Setidaknya tubuh gue selalu siap menjadi tameng untuk
Melindungi orang-orang yang gue sayang.
Buat gue, itu lebih dari sekadar berguna!

Zee Rasyid dan Sam Alqori satu bangku di tahun terakhir SMA mereka. Sikap Zee yang tertutup perlahan melunak dengan kehangatan yang ditawarkan Sam.
Apalagi ketika Zee melihat kondisi keluarga Sam yang sederhana, berbeda jauh dari kehidupannya dengan sang mama.
Pelan-pelan kedekatan Zee dan Sam membuat kepribadian masing-masing berubah. Hidup yang mereka jalani tak lagi terasa aman.

Cuplikan Kisah dan Review

Novel ini bercerita tentang dua orang. Zee dan Sam. Masing-masing memiliki masalah yang berhubungan dengan kekerasan.
Zee, diceritakan sebagai anak tunggal yang tinggal berdua dengan mamanya. Rumah Zee besar. Pagarnya sangat tinggi nyaris menyaingi atap. Bukan hanya itu, di halaman juga terdapat banyak patung-patung, membuat suasana semakin muram karena kurang pencahayaan. Hidup Zee memang muram, sama seperti rumahnya. Dia sering disakiti oleh mamanya sampai babak belur.
Hal sekecil apa pun yang memancing kemarahan sang Mama, akan membuatnya terluka. Namun, Zee tidak berani bicara atau mengadu pada siapa-siapa, karena hanya Mama yang dia punya. Papanya meninggalkan mereka dan menikah lagi.

Detik selanjutnya Mama sudah menyeretku dengan kasar kembali. Aku terseok-seok di lantai sambil menjerit. Aku membentur sisi sofa, menabrak meja, pintu, hingga sampai ke kamar mandi. –hal. 90

Di sekolah, Zee satu bangku dengan Sam, cowok yang dikenal pemalas, tapi baik hati. Sam bersahabat dengan Vini, cewek terpintar di kelas. Suatu hari, gelang Zee hilang. Dia berkali-kali mencari tapi tidak ketemu. Sam, yang tahu persis gelang itu menemukannya. Dia mengantarkan gelang itu dan juga nomor ujian ke rumah Zee karena sudah beberapa hari cewek itu tidak sekolah. Saat itulah Sam melihat Zee disiksa oleh mamanya.
Berkat bantuan Sam pula Zee akhirnya bertemu dengan sang Papa. Tapi Mama mengetahui itu dan marah besar, kembali menyiksa Zee sampai nyaris mati. Untung saja cewek itu bisa selamat.
Kalau Zee disiksa mamanya, beda lagi dengan Sam. Dia selalu menjadi saksi ibunya disiksa. Dia berasal dari keluarga biasa saja. Ibunya penjual mi ayam, ayahnya nelayan yang hanya pulang sesekali dan sangat tempramental, dan kakaknya mahasiswi—kuliah pun dengan biaya pas-pasan.
Hampir setiap kali Ayah pulang, Sam melihat ibunya disiksa. Sam melawan. Dia tidak ragu meninju wajah ayahnya sendiri. Jadi, tidak aneh kalau dia pandai berkelahi. Dia akan menghajar siapa saja yang menyakiti orang-orang yang disayanginya. Bahkan dia meninju cowok yang mendekati Vini hanya untuk mendapatkan sontekan ujian.

Pokoknya Sam itu tipe cowok yang keren banget. Emang sih, caranya salah, pakai kekerasan, tapi tetep aja di mata saya dia keren.
Ini kali pertama saya baca karya Seplia. Saya dapat rekomendasi dari beberapa teman, mereka bilang novel ini bagus. Tapi, susah sekali mendapatkannya. Di beberapa toko buku tidak ada, online pun sama. Akhirnya saya menemukan ini di pameran, hehe.
Tulisan Seplia begitu mengalir. Dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti, saya menikmati saat membaca novel ini. Temanya keren dan sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Karakter tokoh pun terasa nyata. Saya bahkan berharap benar-benar bisa bertemu mereka. >_<
Saya hanya tidak suka di bagian wali kelas yang bersikap tidak peduli pada Zee. Juga pada saat mama Zee marah karena hal yang ... yah, sebutlah tidak penting. Kurang sreg aja sih, tapi mungkin ini untuk memperkuat karakter mama Zee yang mudah tersulut emosi ya. Selain dua hal itu, saya suka semuaaa!! Keren banget. Feel-nya sampai dan ... oh, udah nggak tahu mau bilang apa. Serius, keren banget. Saya jadi penasaran sama tulisan Seplia yang lain.

Quotes

Ini hanya sebagian quotes yang sempat saya tandai karena keasyikan membaca. Hehehe...

Kita bisa jadi orang yang beda kalau lagi di sisi orang yang kita suka. –hal. 65

Sebab hal yang ragu-ragu tidak akan pernah menjadi sesuatu. –hal. 77

Orang baik bisa berubah jahat kapan pun itu kalau dia terjepit oleh keadaan yang nggak menguntungkan. –hal. 179

Hidup bukanlah susunan kalimat teratur yang sesuai dengan kaidah. Akan ada hal-hal yang terjadi di luar prediksi. Tidak selalu terang dan tidak selalu kelam. Kadang rapi, kadang berantakan. –hal. 180

Perasaan tidak bisa dibeli dan ditawar-tawar. –hal. 212

Ternyata kita tidak bisa belajar untuk mencintai, sebab hati kita akan mencintai dengan sendirinya. Jauh di dalam lubuk hati ini, kita tahu sebenarnya kepada siapa hati kita memilih jatuh. –hal. 212

Kita bisa belajar lebih kuat dari pengalaman buruk. –hal. 237

Rating
Cover: 5/5
Tema: 5/5
Karakter tokoh: 5/5
Plot: 4/5
Gaya bahasa: 5/5

Overall: 4.8/5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar