(sumber foto: Goodreads)
Judul: Then and Now
Penulis: Arleen A
Editor: Dini Novita Sati
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 344 halaman
Tahun terbit: 2017
Blurb
Ruita
Gadis dari suku telinga pendek. Ia tidak menyukai suku
telinga panjang, apalagi kalau harus bekerja pada mereka. Tapi lalu ia melihat
mata itu, mata seorang laki-laki suku telinga panjang yang sorotnya seolah
dapat melihat kedalaman hati Ruita.
Atamu
Ia tidak pernah menyangka akan jatuh hati pada gadis dari
suku lain yang lebih rendah derajatnya. Tapi apalah arti kekuatan lelaki
berusia enam belas musim panas bila dihadapkan pada takdir yang lama tertulis
sebelum dunia diciptakan?
Rosetta
Ia punya segalanya, termasuk kekasih yang sempurna. Tapi
ketika ia dilamar, ia menolak tanpa tahu alasannya. Ia hanya tahu hatinya
menantikan orang lain, seseorang yang belum dikenalnya.
Andrew
Ia hanya punya enam bulan untuk mencari calon istri, tapi
ia tidak tahu dari mana harus memulai sampai ia melihat seorang gadis berambut
merah. Dan begitu saja, ia tahu ia akan melakukan apa pun untuk mendapatkan
gadis itu.
Cuplikan
Kisah dan Review
Novel ini terbagi menjadi dua kisah berbeda. Bagian
pertama adalah kisah masa Dulu (Then), dan bagian kedua adalah masa Sekarang
(Now). Jadi, mari kita bahas setiap bagian.
Bagian pertama (Then) menceritakan kisah Ruita dan Atamu.
Mereka berasal dari dua suku berbeda di Pulau Ranai Pui. Ruita dari suku Momoki
yang bertelinga pendek, sementara Atamu dari suku Eepe yang bertelinga panjang.
Sejak dulu suku Eepe dianggap derajatnya lebih tinggi sehingga mereka sering
merendahkan suku Momoki.
Tidak ada yang
memandang ke arah kami seolah kami memang tidak pantas untuk diperhatikan.
–hal. 37
Suatu hari, Ruita ikut membantu ibunya bekerja di rumah
suku Eepe. Awalnya dia menggerutu karena hatinya berat melayani suku Eepe. Dia
tidak terima dengan perbedaan derajat itu. Tetapi kemudian dia melihat mata
seorang laki-laki yang memperhatikannya dari jendela. Itu adalah mata Atamu.
Atamu sendiri menyadari bahwa perasaannya pada Ruita
tidak tepat. Bagaimana pun juga mereka berbeda. Tetapi perasaan tidak dapat
dihentikan. Atamu mendekati Ruita dan berhasil mendapatkan hatinya.
Konflik mulai terasa ketika Ruita “diminta” (dilamar)
oleh Vai. Ruita tidak bisa menolak. Di sisi lain, dia tidak mau dan tidak bisa
meninggalkan Atamu. Dia semakin bingung ketika tahu rencana suku Momoki yang
akan menyerang suku Eepe. Bagaimana pun juga, dia tidak mungkin mengkhianati
sukunya, tapi dia juga tidak ingin terjadi sesuatu pada Atamu. Masalah semakin
pelik saat hubungan terlarangnya dengan Atamu terlihat Vai.
Bagian kedua bercerita tentang Rosetta yang malah
memutuskan Henry setelah dilamar. Sebelumnya sama sekali tidak ada masalah,
tetapi Rosetta merasa bukan Henry orangnya. Hatinya mengatakan ada orang lain.
Suatu hari, Rosetta bertemu dengan concierge (petugas
lift) dan tidak bisa melepaskan tatapannya dari lelaki bernama Andrew itu.
Dengan cara yang unik, menggunakan memo, Andrew mengajak Rosetta makan malam.
Pertemuan berikutnya terus terjadi berkat bantuan memo itu.
Konflik mulai muncul saat Henry melamar Rosetta di
hadapan Andrew dan semakin rumit saat Rosetta tahu siapa Andrew sebenarnya.
Bagaimana mungkin
sesuatu yang begitu sempurna bisa berubah kacau hanya dalam hitungan menit?
Apakah memang
sesingkat itu waktu yang dibutuhkan untuk membuat sebuah koyakan besar tanpa
ampun pada hati yang tadinya begitu gembira? –hal. 300
Then & Now adalah novel Arleen yang pertama kali saya
baca. Alhamdulillah seperti dugaan saya, novel ini keren! Bukan hanya covernya
saja.
Memang, seperti yang dikatakan orang, gaya bahasa Arleen
mirip buku terjemahan. Awalnya saya tegang, takut tidak nyaman membacanya,
nyatanya saya malah terbawa suasana dan terus membalikkan halaman demi halaman.
Sama sekali tidak merasa kesulitan.
Sekadar curhat, pada saat membaca novel ini saya juga
membaca novel lain yang sedang dikejar deadline untuk blogtour dan
beberapa pekerjaan mengedit. Otomatis saya harus membagi waktu. Saya tentukan
minimal satu atau dua bab per-hari, per-buku. Saya bisa menepati aturan saat
membaca novel lain, tapi tidak ketika membaca novel ini. Saya malah tidak bisa
berhenti membaca. Setiap bab dibuat pendek dan bagian akhirnya selalu membuat
saya ingin lanjut membaca. Benar-benar menarik.
Tema yang diangkat sebenarnya klasik, bagian pertama
tentang cinta berbeda kasta, bagian kedua tentang cinta berbalut misi. Meski
klasik, penyajiannya begitu segar dan bahasanya mengalir. Konfliknya pun
tenang, tidak terkesan dibuat-buat, sangat natural. Untuk bagian pertama, saya
dapat merasakan ketegangan yang cukup kuat ketika suku Momoki dan Eepe berperang,
tetapi pada bagian kedua ketegangan itu tidak terasa. Tapi itu tidak menjadikan
novel ini buruk di mata saya karena saya melihat dua bagian ini memiliki
keistimewaan masing-masing.
Bagian pertama istimewa karena hubungan terlarang Ruita
dan Atamu serta pemaparan tentang dua suku yang sangat jelas, bagian kedua
istimewa karena Andrew dan Rosetta menggunakan cara unik saat awal-awal
berkomunikasi, yaitu menggunakan memo. Bahkan Andrew melamar Rosetta pun dengan
memo! So sweet!!
Dengan menggunakan POV 1 bergantian setiap tokoh, Arleen
berhasil mengajak saya untuk menyelami setiap karakter. Perbedaan Ruita, Atamu,
Rosetta, Andrew, dan tokoh-tokoh lain sangat terasa. Ini pastinya bukan hal
mudah dalam proses menulis dan saya bisa katakan Arleen berhasil membuat setiap
tokoh terasa nyata.
Saya menemukan tiga typo pada bagian kedua novel ini dan
semoga proofreader membaca review ini untuk diperbaiki. Ada kesalahan
nama, seharusnya Richard, malah Andrew (halaman 274), tidak ada kutip buka
(halaman 280, dialog kedelapan), dan kesalahan penulisan bukankan, seharusnya
bukankah (sayangnya saya lupa halaman berapa, tapi di bagian kedua).
Saya juga bingung saat membaca lembar akhir buku menyebutkan suku Momoko. Entah
ini typo atau memang suku tersebut bisa disebut dengan Momoki atau
Momoko.
Meski menemukan typo, saya sangaaattt menyukai
buku ini, termasuk buku terbaik yang saya baca di tahun 2017. 💕
Quotes
Terkadang orang melakukan sesuatu hanya karena itu telah
dilakukan oleh kakek-nenek mereka. (hal. 13)
Bukankah sesuatu yang tidak kau miliki selalu tampak
lebih mengagumkan daripada sesungguhnya? (hal. 24)
Terkadang hal yang tampak sepele belum tentu sesepele
itu. (hal. 24)
Pantai memang sosok penggoda. Ia membiarkan kita melihat
begitu jauh tanpa pernah membiarkan kita mencapainya. (hal. 29)
Ada keasyikan tersendiri yang kau dapat ketika kau
memandangi seseorang dan seseorang itu tidak tahu sedang kaupandangi. (hal. 30)
Mengapa dua makhluk yang sama-sama hasil ciptaan-Nya
tidak boleh saling mencintai? (hal. 50)
Adil berarti sesuai kebutuhan. (hal. 50)
Bukankah seorang gadis tidak boleh menyentuh lelaki yang
bukan keluarganya? (hal. 86)
Tidak mungkin sesuatu yang salah terasa begitu benar,
bukan? (hal. 99)
Waktu memang begitu cepat berlalu bila kau sedang
tenggelamdalam buku-buku yang begitu menghipnotismu, membuatmu melupakan segalanya.
(hal. 323)
Rating
Cover: 5/5
Tema: 5/5
Karakter: 5/5
Plot: 5/5
Gaya bahasa: 5/5
Overall: 5/5
