Minggu, 04 Juni 2017

[Review] Love at First Fall


Judul: Love at First Fall
Penulis: Primadonna Angela
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 208 halaman
Tahun terbit: 2017

BLURB

Jatuh cinta memang menyebalkan. Begitulah pikir Wulandai Safira, yang melihat sendiri dampak cinta pada diri teman-temannya. Jatuh cinta membuatmu nggak logis, menjadikanmu pribadi yang sensitif, sedikit-sedikit nangis atau ngambek. Ndari nggak mau kepribadiannya berubah sedratis itu.
Namun, ketika akhirnya Ndari jatuh cinta, dia menyadari dunianya jungkir-balik, emosinya kacau-balau, dan segalanya tidak lagi sama. Dua cowok mengguncang semestanya: Kevin, teman masa kecilnya sekaligus tunangannya, dan Steve, yang dalam waktu singkat menarik simpatinya.
Setelah melakukan bungee jumping di Pantai Scheveningen, Ndari akhirnya tahu siapa yang dipilihnya....


CUPLIKAN KISAH

Diceritakan Wulandari Safira (Ndari) adalah seorang pelajar yang sedang sebal pada dua temannya, Triana dan Aileen, gara-gara cinta.
Triana dan Aileen sedang tergil-gila pada cowok dan itu membuat Ndari pusing. Menurut Ndari, sikap teman-temannya lebay. Dia saja yang naksir Kevin tidak sampai bersikap berlebihan.
Kevin adalah teman Ndari sejak kecil. Rumah mereka berdekatan, keluarga mereka juga akrab. Semua biasa saja sampai akhirnya Kevin membicarakan tentang rencana pertunangan mereka. Ndari yang tidak diberi tahu apa-apa oleh orangtuanya terkejut akan hal itu. Meski kaget, dia juga senang. Tapi rasa senang bertunangan dengan cowok yang dia taksir itu lenyap ketika Kevin mengatakan bahwa alasannya menerima pertunangan itu hanyalah untuk menuruti permintaan orangtua.
Ndari yang bete semakin sebal karena Triana dan Aileen muncul dengan segudang curhatan mereka. Karena muak, dia mengeluarkan semua unek-uneknya. Untung saja ada Maeve, sahabatnya yang tinggal di Belanda yang tidak pernah berubah.
Pada saat liburan sekolah, Ndari berlibur ke Belanda. Di sana, dia bertemu dengan Steve yang memesona. Dia kaget dengan pernyataan cinta dari Steve. Lebih kaget lagi ketika Kevin mendadak muncul dan mengungkapkan perasaan sebenarnya.


REVIEW

Jujur aja, awalnya saya nggak begitu antusias membaca novel ini karena menurut teman, review di GR nggak begitu memuaskan. Tapi, karena labelnya teenlit dan saya lagi berjuang menyelesaikan naskah teenlit, saya butuh asupan banyak. Salah satunya ya Love at Firts Fall ini.
Kabarnya novel ini diterbitkan ulang dari versi awalnya dengan beberapa bagian yang diperbaiki. Saya nggak tahu bagaimana versi awal, jadi saya hanya menilai dari apa yang saya baca saat ini.
Tema novel ini bisa dibilang unik. Tentang seorang perempuan yang risi karena teman-temannya lebay saat jatuh cinta. Tapi sayangnya, semakin ke belakang tema itu memudar. Berganti dengan kisah percintaan Ndari-Kevin-Steve. Kalau kalian baca cuplikannya, seperti cerita-cerita di film, bukan? Sebenarnya saya nggak masalah sih, asalkan kembali ke awal. Bagaimana akhirnya Ndari menyelesaikan masalahnya dengan Triani dan Aileen, sayangnya, itu nggak ada.
Jika dilihat dari karakter tokoh dalam novel ini, saya bisa bilang semua cukup bagus. Hanya kurang diperkuat di sisi Kevin saja. Kevin di awal-awal kemunculannya tampil sebagai cowok jail. Tetapi semakin lama saya merasakan Kevin berubah dingin tapi nggak tahu kenapa. Apakah karena bertunangan dengan Ndari?
Dengan menggunakan gaya bahasa yang ringan khas Primadonna Angela, novel ini diceritakan melalui sudut pandang orang pertama (Ndari). Jadi kita bisa tahu apa saja yang dirasakan tokoh utama.
Sama seperti beberapa buku Primadonna Angela yang pernah saya baca, novel ini penuh dengan imajinasi yang keluar dari konteks. Maksudnya banyak pembahasan yang melebar ke mana-mana. Tapi uniknya, di novel ini saya nggak begitu terganggu. Kalau di novel-novel lain (maaf) saya sampai bingung.
Di balik kekurangannya yang saya rasakan, saya menyukai novel ini karena sangat mengalir. Cocok untuk kalian yang senang bacaan ringan.


QUOTES

Heran nggak sih, kenapa perbuatan buruk lebih diingat orang daripada perbuatan baik? (hal. 19)

Kalau kamu menghindari masalah dengan cara pergi, kamu hanya akan mendapat masalah yang lain. (hal. 94)

Coba dengerin orang ngomong sampe selesai, baru komentar! (hal. 95)

Nggak semua orang yang mendekati kamu itu baik.(hal. 119)

Cinta memang misterius. (hal. 153)

Mengenal seseorang bertahun-tahun bukan jaminan bahwa kita benar-benar mengetahui sifatnya. (hal. 179)


RATING

Cover: 3/5
Tema: 3/5
Karakter tokoh: 3/5
Gaya bahasa: 3.5/5
Plot: 3.5/5
Overall: 3.2/5


Jumat, 02 Juni 2017

Menjadi Penulis Muda (?)

Saya sudah menulis sejak duduk di bangku Sekolah Dasar.

Menulis cerpen dan dimuat pertama kali saat SMA.

Menerbitkan novel pertama kali saat kuliah.

Sekarang? Saya masih menulis dengan harapan yang sama: menjadi penulis.

Kalian ingat, apa cita-cita kalian ketika kecil? Saya, banyak!

Mulai dari guru, dokter, perawat, arsitek, pilot, semua saya sebut. Tapi, hanya ada tiga yang nggak pernah berubah:

1. Membahagiakan orangtua
2. Masuk surga
3. Menjadi penulis

Untuk poin satu dan dua, sekarang udah bukan lagi cita-cita. Karena menurut saya (versi sekarang, yang udah lulus kuliah), itu adalah kewajiban.

Jadi, mari kita bahas tentang menjadi penulis.

Menjadi penulis, kenapa?

Karena dengan menulis saya bisa membuat dunia saya sendiri. Dengan menulis saya bisa mengubah cerita apa pun yang saya nggak suka. Dengan menulis saya bisa melampiaskan perasaan dengan lebih baik. Dan dengan menulis, saya ingin berbagi.

Tetapi nyatanya, menjadi penulis itu nggak mudah.

Ada perjuangan berat!

Ada kritikan pedas!

Ada penolakan menyakitkan!

Dan ada pula editor yang menggantung naskah kita.

Menjadi penulis harus bermental baja. Alurnya kurang lebih begini:

Dihina - sakit hati - bangkit - menulis lagi.

Dikritik - putus asa - bangkit - menulis lagi.

Diabaikan - marah - bangkit - menulis lagi.

Ditolak - sedih - bangkit - menulis lagi.

Bisa dibilang, tulisan ini sebenarnya saya buat untuk menyugesti diri sendiri setiap kali merasa down. 

Sejak kuliah sampai ... sebulan yang lalu, ambisi saya masih menjadi penulis muda. Saya sering kesal setiap kali teman penulis kembali menerbitkan karyanya. Saya kecewa karena yang lain bisa menerbitkan buku di usia kurang dari 25 tahun. Tapi kemudian saya sharing dengan teman yang hobi membaca. Dan kata-katanya membuat saya merenung,

"Semua orang bisa nulis, tapi nggak semua orang bisa jadi penulis."

Saya tertegun. Dia benar.

"Di luar negeri, orang menjadi penulis di usia yang matang. Masa muda mereka dihabiskan dengan membaca buku. Di Indonesia, orang justru berlomba-lomba menjadi penulis, tapi minim baca buku. Di sini, semakin muda orang menjadi penulis, semakin dianggap hebat. Tapi, coba tanyakan buku apa saja yang mereka baca. Kebanyakan buku "biasa". Nggak heran kalau tulisannya biasa aja. Memang, ada yang tulisan dan bacaannya bagus, tapi nggak banyak."

Saya tersindir. Tapi dia benar.

Dan setelah diskusi ini tujuan saya berubah. Saya nggak lagi berambisi menjadi penulis muda. Tujuan saya sekarang adalah membaca - belajar - menulis.

Saya nggak menjami beberapa tahun yang akan datang saya telah menjadi penulis. Karena masa depan Allah yang tahu. Tapi saya yakin, beberapa tahun ke depan, tulisan saya lebih baik dari sekarang.

Karena itulah, saya nggak lagi membeli buku yang biasa aja untuk memotivasi diri dan menjadi pembanding tulisan.

Istilah melihat ke bawah sekarang nggak berlaku lagi bagi saya dalam hal ini.

Kali ini saya membeli buku yang benar-benar bagus, berkualitas, hanya direkomendasikan pecinta buku.

Saya mulai menyeleksi buku yang saya beli dan baca.

Bukankah untuk menjadi sehat harus mengonsumsi makanan sehat?

Saya pikir, hal yang sama berlaku dalam menulis.

Kalau saya ingin tulisan saya berkualitas, maka saya harus membaca buku berkualitas.

Dan latihan!!!

Bismillah. Nggak ada perjuangan yang mudah. Dan nggak ada perjuangan yang sia-sia. Insya Allah. Aaaamiiin.

Kamis, 01 Juni 2017

Aku Ingin (Berhenti) Menulis

"Saya ingin berhenti menulis."

Pernah berpikiran seperti itu saat down dalam menulis?

Saya pribadi sebisa mungkin untuk nggak mengucapkan kalimat itu karena--jujur saja--saya nggak mau sampai tersugesti dan akhirnya benar-benar berhenti menulis.

Sebagai orang yang suka menulis dan ingin memiliki buku karya sendiri yang mejeng di toko buku se-Indonesia, ada saatnya saya down. Ada saatnya iri terhadap teman-teman lain yang naskahnya ACC penerbit mayor. Iri dengan cara bercerita mereka yang indah. Tapi saya nggak mau sampai mengatakan untuk berhenti dmenulis.

Saya selalu berusaha ingat bagaimana perjuangan saya sampai saat ini. Mulai dari kurangnya dukungan orangtua, mood yang naik-turun, naskah yang menggantung atau ditolak. Apa harus saya menyerah setelah semua perjuangan itu? Bagaimana perasaan "mereka" jika saya sebagai "penciptanya" menyerah?

Setiap kali ada yang mengatakan ingin berhenti menulis, saya terkadang ingin menangis. Kesal karena ... oh, ya ampuuun, perjuangan kamu mungkin belum seberapa.

Sudah berapa kali naskahmu ditolak?

Sudah berapa kali kamu dikritik?

Saya juga selalu memikirkan itu untuk diri sendiri jika sedang down.

Saya selalu berpikir, mungkin saja kalau saja berusaha satu kali lagi, saya akan berhasil. Mungkin saja kalau ditolak sekali lagi, setelahnya saya akan berhasil.

"Habiskan kuota gagalmu." Kalimat itu saya pegang sampai saat ini.

Saya nggak tahu udah berapa kali naskah saya ditolak. Lebih dari 20 kali pastinya. Dan setiap ditolak, saya akan sedih, kecewa, merasa sangat buruk, lalu akhirnya diam. Melampiaskan kemarahan dengan banyak-banyak membaca. Saya butuh waktu untuk mengumpulkan semangat menulis lagi. Dan saya berpikir, mungkin saja setelah penolakan ke 25 atau 30 saya baru berhasil? Artinya saya harus terus menulis, kan?

"Kenapa hanya saya yang gagal?"

Saya yang naskahnya masih ditolak terus ini sering berpikir demikian.

Kenapa sih, ditolak lagi? Kenapa sih, editor nggak lihat naskah saya idenya bagus? Kenapa sih, dia tulisannya terbit terus? Kenapa hanya saya yang nggak bisa?

Saya juga merasakan semua itu.

Dan sebagai satu-satunya orang yang menyukai fiksi dan menulis dalam keluarga bahkan lingkungan pertemanan, saya mencoba berpikir positif:

"Benar, nih saya doang? Yakin? Kenapa saya nggak melihat ke samping, ya? Banyak yang sama-sama berjuang seperti saya. Dan kalau mereka nggak menyerah, kenapa saya harus menyerah?"

Apa yang saya lalukan kemudian?

Baca, baca, dan baca. Setelah beberapa waktu saya buka lagi si Naskah, keegoisan pun hilang. Saya akhirnya mengerti mengapa naskah saya ditolak. Ada yang kurang dan seringnya saya nggak tahu apa itu. Yang saya tahu, wajar ditolak. Jadi saya harus menambal bolong itu dengan cara apa pun. Entah itu mengedit beberapa bagian atau bahkan re-write.

Naskah saya pernah dikritik oleh seseorang. Sakit hati? Iya. Saya udah kerjain naskah itu berbulan-bulan, lalu dia bilang feel-nya nggak ada dan terlalu banyak kebetulan. Saya sedih, dong. Tapi setelah direnungkan saya sadar, harusnya saya bersyukur dia memberi tahu kesalahan saya di mana, karena dengan begitu saya bisa memperbaiki yang kurang. Iya, kan?

Jujur saja, sebenarnya saya orang yang mudah sekali putus asa. Tapi untuk hal menulis ini, tempat saya bercerita hanya suami (yang lebih suka non fiksi), jadi saya harus bisa bertahan sendiri dan mencari cara untuk bisa menyemangati diri.

Setiap kali down, saya akan bercerita pada suami. Responnya bisa dibilang biasa aja, nggak ada yang istimewa, tapi membuat saya sadar saya harus banyak belajar. Selalu seperti itu. Dia selalu menyuruh saya belajar dan belajar. Selalu.

Saya serius dalam menulis, jadi saya harus menerima konsekuensinya, kan?

1. Mau membaca buku berbagai macam genre tapi berkualitas
2. Mau belajar
3. Mau dikritik

Ya, jadi penulis emang nggak gampang. Tapi memangnya ada yang instan? Mie instan aja harus diproses dulu sebelum dimakan. Begitu juga menulis.

Jadi, kalau kalian serius mau menulis dan cinta menulis, tolong jangan katakan ingin berhenti. Cinta itu harus diperjuangkan. Kecuali, kalian memang nggak cinta menulis, ya sudah, tinggalkan. Karena cinta nggak bisa dipaksakan.