Senin, 07 November 2016

"Anakku" ke Luar Negeri

Mbak Kiky Aurora emang baiiik banget.

Hari itu, saya buka Facebook dan lihat statusnya yang mempersilakan enam orang yang ingin karyanya dibawa jalan-jalan ke beberapa negara. Dia menyebutkan negara yang akan dikunjungi, beberapa di antaranya, Istanbul, Jerman, Paris dan Amsterdam. Saya jelas berminat dong. Langsung deh inbox Mbak Kiky dan besoknya, langsung kirim novel saya beserta surat pendek yang isinya harapan agar novel saya dibawa serta jalan-jalan. XD

Sempat bingung awalnya pilih negara mana. Istanbul atau Jerman, ya? Masalahnya, dua negara itu termasuk dalam list yang ingin saya kunjungi (entah kapan, ini hanya cita-cita :D)

Setelah minta saran Mr. TKP, akhirnya saya memilih Istanbul.

Dan inilah fotonya ...




Cantik kaaan fotonya... :D  <3

Daaaaaaaaaannnnnnnnn ......... beberapa hari kemudian saya dapat kiriman lagi. Malam itu saya sedang sedih-sedihnya, ada masalah gitu, deh. Eh ternyata dapat kejutan berupa foto novel saya di Tembok Berlin dan Brandernburg, Jermaaaaannnn.... <3




Gimana nggak happy kalau gini, kan? Alhamdulillaaahhh... Allah Maha Baik. Minta satu, dikasih dua. Pesan ke Istanbul, dikasih bonus Jerman. XD

Seneng banget liat buku saya jalan-jalan. Untuk sementara "anak" dulu deh, yang ke luar negeri. Siapa tau kan, nanti "ibunya" bisa ikut. ^^ Aaamiiin.... ^^

Jumat, 04 November 2016

Lomba Resensi Novel Love, Life, and Choir

Ini adalah cerita saya saat mengikuti lomba resensi novel Love, Life, and Choir yang diadakan oleh penulisnya, Kiky Aurora. :)

Saya mengenal Mbak Kiky lewat foto-fotonya yang diunggah di Facebook dan selalu merasa 'iri'. Kapaaan saya bisa berkunjung ke luar negeri. Hingga akhirnya saya mendapatkan info tentang lomba resensi novel pertamanya dengan hadiah sebagai berikut:

Juara 1: Tiket PP ke Kualalumpur
Juara 2: Biaya pembuatan paspor
Juara 3: Uang tunai/pulsa 100 ribu rupiah

Tanpa banyak pikir, saya langsung beli ke penerbit. Nggak muluk-muluk, target saya adalah juara 2. Saya pengin punya paspor meski entah kapan saya bisa pergunakan. Yang penting punya dulu, begitu mikirnya waktu itu.. XD

Begitu novel saya baca, saya berencana untuk langsung posting resensinya. Tapi begitu melihat resensi peserta lain, saya minder. Beberapa hari hasil resensi saya teronggok begitu saja di laptop, berpikir untuk apa saya ikutan kalau hanya untuk mengecewakan diri sendiri? Mustahil menang.
Tapi pada akhirnya saya kirim juga dengan pemikiran, "Lakukan ini untuk penulisnya. Sebagai bentuk penghargaan untuk penulis."

Hari demi hari berlalu. Saya lupa dengan lomba itu.

Hingga akhirnya, pada 26 September 2016, saya tiba-tiba ingat lomba itu. Masih teringat jelas di benak saya, saat itu pagi hari. Saya sedang bersiap-siap ke sekolah, sambil memakai jilbab.

"Kalau nggak salah pengumuman lomba resensi belum diumumin, deh."

"Eh, udah, jangan mikir apa-apa. Kamu itu kalau inget lomba yang kamu ikutin, pasti kalah. Selalu gitu. Stop. Jangan pikirin lagi. Kamu udah kalah."

Kata-kata itu hanya berasal dari hati. Saya pun melupakan kembali lomba itu.

Siang harinya, saat saya sedang mengetik naskah, laptop tiba-tiba mati. Padahal sudah bagian ending. Dan belum saya save. Jadi, apa yang saya tulis, hilang begitu saja. Saya kesal saat itu. Rasanya ingin menangis. Dan saya pun kembali menulis dengan sisa ingatan yang ada.

Saat akan tidur siang dan saya masih kepikiran naskah itu, tiba-tiba ada notifikasi email. Tercantum bahwa Mbak Kiky menandai saya dalam fotonya.

Ah, ini pasti titipan foto novel di Istanbul, pikir saya saat itu. Tapi bukannya Mbak Kiky baru berangkat Oktober, ya?

Jadi saya pun membuka Facebook (masih dalam posisi tiduran). Coba melihat foto apa yang di-tag. Daaan. ta-daaa ....



Begitu melihat fotonya, saya langsung terduduk. Ya Allah ... ini beneran? Saya baca berkali-kali. Takutnya mimpi. Keempat kalinya baca, saya yakin itu bukan mimpi. Saya malah bolak-balik di rumah, bingung harus gimana saking kagetnya. Saya bahkan nggak bisa komen apa-apa.

"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

Alhamdulillah ...

Bisa ke luar negeri adalah salah satu resolusi saya di tahun 2016. Resolusi yang saya buat asal-asalan. Maksudnya, termasuk hal yang mustahil terwujud. Tapi apa sih, yang nggak mungkin bagi Allah? Semua mungkin. Kita tinggal perlu percaya pada mimpi-mimpi kita. Cita-cita kita. Harapan kita.

Mengutip kata-kata A. K. dalam buku Aku Doamu,

"God is always on time." Allah selalu tepat waktu.

Hari ini, 4 November 2016, saya selesai mengurus paspor. Sekarang menabung untuk bekal di sana dan terus berdoa agar dimudahkan. Perjuangan belum selesai. Tidak akan pernah selesai. Kembali berserah kepada-Nya. 


Kamis, 03 November 2016

Review: Love, Life, and Choir

Judul buku: Love, Life, and Choir
Penulis: Kiky Aurora
Penerbit: Stiletto Indie Books

237 halaman

Catatan: Ini postingan lama. Sebelumnya diposting di Facebook. :)

Aku tahu Mbak Kiky Aurora sebagai traveler. Selalu jatuh cinta sama foto-fotonya yang ada di luar negeri. Jadi, waktu tahu Mbak Kiky terbitin buku indie, langsung tertarik. Ditambah lagi ternyata ada lomba bikin review. Sebagai orang yang hobi baca, hadiah yang didapat dari baca buku bukan hal yang utama. Yang paling penting adalah punya bukunya. :D

Awalnya aku pikir novel ini bersetting luar negeri atau kisah yang berhubungan dengan hobi traveling penulisnya, tapi ternyata settingnya di Jogja dan isinya tentang cinta. Ya, okelah, nggak masalah. Toh, Jogja salah satu kota yang aku suka... <3
Langsung masuk ke review ya.

Novel ini memiliki tiga judul cerita. Judul pertama adalah Kali ini Bukan Tentang Ariel. Bercerita tentang Reni yang masih sulit move on dari Ariel, kekasihnya yang sudah tiada. Pertemuan dengan Andro di kampus membuat Reni merasakan sesuatu yang baru. Semakin sering bertemu, Reni semakin sulit mengendalikan perasaannya. Perasaan yang ia ingin simpan hanya untuk Ariel. Sama dengan Reni, Andro pun tertarik dengan gadis itu. Ia bahkan rela datang ke rumah Reni untuk menunjukkan keseriusannya. Namun Reni tetap sulit menerima Andro. Sekeras apa pun usaha Andro, Reni tetap tidak mau mengkhianati Ariel. Apakah Reni akhirnya menerima Andro? Hm, baca sendiri, ya. :D

Judul kedua adalah Akhir Penantian Tara. Dalam judul ini penulis bercerita tentang Tara yang mencoba mendekati Nicko. Karakter mereka bertolak belakang. Tara yang berani menunjukkan perasaan dan Nicko yang pemalu (serius, ini bikin gereget). Karena Nicko tidak juga mengatakan perasaanya, akhirnya Tara menyatakan perasaan lebih dulu. Bagaimana tanggapan Nicko? Baca sendiri juga, ya. Yang pasti ada kejutan menjelang ending!

Judul ketiga adalah Mengejar Cinta Nugie. Bercerita tentang Devi yang jatuh cinta pada Nugie, padahal Nugie lebih muda dari dia. Hubungan mereka dekat, tetapi Nugie tidak ingin menjalin yang lebih jauh dengan Devi. Menurut Devi, ini ada hubungannya dengan Alvin. Hm, siapa Alvin? Yang jelas, Nugie dan Alvin ini membuat Devi menjadi sedih. Setiap kesedihan ada obatnya. Dan obat itu adalah Pram. Laki-laki yang menjadi penghuni kost di belakang rumah yang dikontrak Devi bersama teman-temannya.

Cover
Aku suka pemilihan warna pada cover novel ini. Menarik dan terang. Penuh semangat. Tetapi, aku agak kurang suka sama ilustrasinya. Menurutku kurang meremaja. :)

Tokoh dan Karakter
Aku menyukai karakter-karakter yang dibuat penulis. Kuat dan konsisten. Reni yang galau. Andro yang penuh semangat. Tara yang berani. Nicko yang pemalu. Lalu ada Devi yang terus mengejar Nugie, dan Nugie yang menghindar. Pokoknya semua pas. Ngena banget. Hanya saja, yang aku sayangkan adalah di sini terlalu banyak tokoh pembantu yang (menurutku, sih) sebenarnya kalau beberapa dihilangkan nggak jadi masalah.

Konflik
Setiap judul memiliki konfliknya tersendiri. Konflik dalam novel ini cukup kuat. Yang sedikit mengganggu adalah porsi pembahasan tentang “cinta” yang terlalu banyak. Mungkin ini masalah selera, ya. Aku sendiri lebih suka yang konfliknya beragam. Misanya, ada cinta, persahabatan, keluarga. Di cerita ketiga, Mengejar Cinta Nugie, aku dipuaskan karena penulis membuat konflik antara Devi dengan teman-temannya yang tidak suka Devi pulang malam.

Gaya Bahasa
Gaya bahasa dalam novel ini ringan, tetapi ada beberapa bagian yang bahasanya menjadi baku. Ini cukup mengganggu menurutku karena bahasa baku dan non baku menjadi tercampur.

Contoh bahasa non-baku dalam novel ini:
“Aku mengenal dia, Mbak. Dia baik banget. Udah kayak abangku sendiri. Mbak tahu kan, aku nggak pernah dekat sama abang kandungku. Lagian Mas Alvin itu pinter, pernah ikut pertukaran mahasiswa ke Jepang. Dia pinter bahasa Jepang. Aku juga pengen bisa, pengen tahu Budaya Jepang.” (hal. 164)

Contoh bahasa baku dalam novel ini:
“Aku tak hendak ke mana-mana,” sahut Devi, heran. (hal. 179) “Aku masih berpikir, apakah aku sungguh akan menjadikanmu kekasihku, ataukah tetap sebagai kakakku.” (hal. 180)

Kesimpulan
Secara keseluruhan, aku suka novel ini karena menghibur dan memiliki tema yang beda. Cinta dan paduan suara. Serasa balik ke dunia—eh usia—remaja. Hohoho. Cocok untuk kalian yang sedang falling in love. Untuk yang susah move on, yang jatuh cinta sama orang super dingin, atau malah sama yang anggap kalian cuma kakak.. XD. Aku hanya butuh waktu satu hari untuk menyelesaikannya.

Ah ya, dari ketiga cerita yang ada dalam novel ini, aku lebih suka cerita ketiga. Alasannya, seperti yang sudah dibahas, konfliknya lebih banyak. Malah aku berharap untuk judul ketiga ini dibuat satu novel utuh sama Mbak Kiky. *dilemparkeTurkiii* ^^V

Finally, 3 bintang untuk novel Love, Life, and Choir. Semangat Mbak Kiky, semoga ada kelanjutan kisah Devi sama Pram *tetepmaksa* :v :v